Tuesday, April 15, 2014

Mitologi Rindu

Kata Sujiwo Tejo, "Puncak rindu paling dahsyat itu ketika dua orang tak saling telp/sms/bbm dll tapi diam-diam keduanya saling mendoakan."
Menara Istiqlal: Tetap Berdiri Meski Sendiri (dokumen pribadi)

Semoga ini cukup menjadi penjelasan ringkas kenapa hapeku tidak pernah berdering olehmu aku tak pernah menyapamu. Meski memang, aku tak tahu siapa dirimu jika kamu bukan dia.

Kadang tak sabar ingin berjumpa, padahal dia sedang berada di jalan menuju perjumpaan. Bukankah seorang kekasih selalu menyebut nama Kekasihnya? Pastilah pada akhirnya dia akan dikumpulkan bersama Kekasihnya itu. Sebutlah namanya dalam doa. Atau kalau bukan nama, doakanlah dia. Dia yang namanya masih tersembunyi di balik tirai waktu.

Bagaimana cara agar kamu tahu ada seseorang -atau beberapa orang- yang merinduimu tanpa perlu dia bertanya kabar dengan SMS, mention, WA, padamu?

Hujan tahu jawabannya. Cielah... Seperti yang pernah kubilang kemarin dulu. Kuunggah doa dan salam rindu ke Penguasa langit malam, agar ia turun bersama rahmat ketika hujan membasahi bumi. Meski kutak tahu siapa dirimu (atau mencoba tidak merasa tahu kalau dia adalah kamu), ia akan sampai kepadamu. Karena hujan tak perlu alamat untuk mengirimkan rahmat, pengabulan doa, dan salam rindu.

Jika kau tak mendengar kabar apapun tentang diriku, It means I'm just fine. No need to worry, nothing to longing, but praying.

Salam,
-ΛM-

PS:
Ini tulisan seseorang yang sedang "Kejar 25"?ckckck

No comments:

Post a Comment