Friday, April 11, 2014

Mr. Macro & Mrs. Micro

Mungkin judul tak sesuai isinya. Apa salah saya? Masalah buat loe? hehe.. I'm sorry, dear readers.
Meja kerja dengan latar belakang lansekap Pasar Senen-Kemayoran (dokumen pribadi)
Menuju 7 bulan bekerja di sini. Apa yang kamu cari?

Pertama-tama, alhamdulillah saya telah berada di sini. Tidak mudah mempunyai sebuah --katakanlah-- impian spesifik yang terkabul di lantai birokrasi. Saya juga tidak ingin menyimpulkan apakah keinginan saya terkabul ataukah harapan tertemukan.

Di Dit. Penyusunan APBN, khususnya di TU-nya, barangkali tidak ada yang lebih tepat mengungkapkannya selain dengan rasa syukur --dan sabar tentu saja. Awalnya, seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, berharap bisa di instansi --yang menurut saya-- 'elit' di gedung seberang sana. Alkisah, saya harus tahu diri. Di DJA-lah saya berpantas. Dan di antara 7 direktorat teknis, impian saya alihkan HANYA di sini, yang sebenarnya hanya salah satu subdirektorat yang saya maksudkan (kalau boleh disebut, yang ada Ekonomi Makro-nya itu lhoooo).

Ternyata Allah lebih tahu kebutuhan saya saat ini, disesuaikan dengan keadaan yang ada di dalam diri maupun di luar diri, yang mengharuskan saya untuk bersyukur sekali di tempatkan di sini: TU Penyusunan APBN.

Apakah saya mulai pesimis?

Ataukah kita --saya-- harus mengulangi hidup dengan pilihan yang baru. I don't think so --ataukah saya sudah terjebak di dalam paradigma konservatif selayaknya para legenda aparatur negara? Yang selalu bermain aman, sesuai jalur (agak sedikit melenceng-lenceng karena kebosanan pada rutinitas), dan standar-standar saja?

Saya juga tidak meyakini langkah mana yang lebih benar. Ketika suatu pemikiran disandingkan/diungkapkan di hadapan rekan-rekan kantor, tentang pilihan hidup 'pensiun dini' dan pulang ke kampung halaman, seperti bertentangan dengan pandangan umum. Saya jadi ragu-ragu, rencana saya yang masih kurang matang, atau mereka yang terlalu mendewakan kemapanan?

Seyogyanya, kita memang melihat suatu masalah dengan banyak sisi. Dua di antaranya dengan pandangan makro dan mikro. Ini semacam istilah pribadi, bahwa mikro lebih kepada kacamata diri sendiri sedangkan makro adalah kacamata global.

Kita akan merasa matahari bersinar hanya untuk planet Bumi, tetapi pengetahuan yang luas mengajarkan bahwa Bumi bukanlah satu-satunya planet yang mengambil manfaat dari sinar matahari. Selayaknya perasaan bahwa kehadiranmu hanyalah untuku seorang.

Bagi negara, apalah arti kehadiran seorang anak bangsa di tubuh birokrasinya. Tapi bagi seseorang, berada dalam kungkungan birokrasi berarti banyak menggantungkan laba-rugi pada kehendak atasan. Tidak sepenuhnya begitu, tapi tidak pula sebagiannya salah. Apakah yang kita -saya- lakukan ini pengabdian sementara saya juga mendapat kompensasi dari pekerjaan yang saya lakukan? Di lain pihak, saya menggunakan komputer negara untuk posting artikel di blog pribadi, mendapat penerangan dari listrik yang tidak saya gunakan untuk kerja lembur ini (saat ini pukul 20:04).

Apa lagi ya?

Tentang pekerjaan, menurut saya sekarang, yang paling ideal adalah akademisi dan/atau pendidik. Keduanya mungkin bisa dikategorikan ilmuwan. That's it. Tentu saya belum tahu apakah dunia ilmuwan yang lebih dekat kepada teori itu nirmala -tanpa cacat-, lha wong saya jauh dari kehidupan itu. Yang jelas, dunia birokrasi ini nyata dan penuh kompromi.

Tapi, mari kita menuju ke sana. Menjadi ilmuwan, dalam arti mikro (sempit, lugas) maupun makro (luas, substantif).

Salam ya.. Semoga Allah memberkahimu dalam kebaikan, melindungimu dengan kerahmatan, dan mengumpulkanmu di antara para kekasih-Nya, dan doakanlah aku ada di antaranya (jadi kita bisa bertemu juga di situ).

-ΛM-

No comments:

Post a Comment