Friday, June 6, 2014

Vegan

Alhamdulillah, it's friday. Apa kabarmu? Segala puji bagi Allah yang telah mengirimkan sinar matahari untuk Bumi Nusantara, serta butiran hujan di sela-sela kehangatan, hingga tanaman hijau dan hewan ternak nyaman hidup di atasnya.

Menuju akhir pekan pertama bulan Juni (tgl 1 Juni tidak dianggap). Artinya, seminggu lagi menuju pulang ke kampung kelahiran. Rencana untuk pulang bareng mbakyu harus gagal karena jadwal Prajab Gol III dimajukan, tiba-tiba, demi menyiasati anggaran. Kerasa banget Badan Diklat lagi kejar setoran. Semoga itu kabar baik, karena bisa berarti undangan bagi kabar baik kabar baik selanjutnya untuk segera menyusul. Alhamdulillah. Tapi, jadinya, gimana gitu rasanya sebagai peserta prajab Gol II gelombang 4 malah jadi tertinggal. But, okelah.


Akhir pekan mau ngapain? Baca tuh buku-buku yang udah kebeli! Terbiasa baca buku secara simultan, jadinya lama ngabisin satu buku aja, tapi sekalinya selesai, berbarengan. Ciyusssss?
 
Meski kerjaan ga terlalu banyak, pulang kantor hampir selalu malam. Tidak mesti lembur, tapi ya gitu... males pulang gasik. Lagian masih ramai orang di ruangan. Jalan masih macet. Di kos juga tidak ada yang menanti (wakakaka). Tapi kalau di kantor, meski ada buku di meja, ga dibaca-baca juga. Terlalu banyak terlena kalau di depan komputer berkoneksi internet.

Demi kejar setoran menulis akhir pekan, sebelum pulang kerja karena di kos ga ada koneksi internet, harus nulis ga jelas kayak gini? Demi bahan bacaan akhir pekan juga, pinjam buku perpus tanpa sempet dibaca? Niatnya sih dibaca. haha...

Ohya, ketika pulang nanti, sayangnya itu tepat sekali dengan bulan Purnama. Kebetulan nisfu Sya'ban. Pertengahan bulan Sya'ban. Padahal, sepanjang bulan Juni, Allah sedang menampilkan tokoh penting perlangitan, di antaranya: Summer Triangle (Altair, Vega, Deneb; bersama keluarga masing-masing), konstelasi Scorpio dan tetangga-tetangganya. Semua ini mungkin akan terkalahkan oleh sinar bulan purnama.

Ohya, beberapa hari yang lalu saya sempat mencoba makan ala vegetarian (vegan), rawfood pula. Beli sayuran yang bisa dimakan mentah di pasar. Berangkat dari rasa was-was daripada pengolahan makanan yang tidak terjamin kebersihannya, bahkan kehalalannya, saya bingung ketika hendak makan. Kadang diri ini permisif, tapi selalu merasa tidak nyaman.

Kalau beli nasi goreng, saya minta tanpa daging ayam, tidak pernah beli bakso dan mie ayam selama di Jakarta, memilih ikan daripada daging sembelihan ketika rapat konsinyering, bubur juga tanpa ayam, tidak pernah makan daging kambing selama lebih dari 2 tahun (kecuali saya tidak tahu kalau itu daging kambing; kalau daging yang satu ini bisa dikatakan saya pernah alergi karena kebanyakan memakannya). Bahkan, saya tak yakin dengan pengolahan yang dilakukan oleh warung sekelas pinggir jalan, warteg, sampai warung Padang. Justru saya tidak curiga dengan pengolahan masakan hotel yang mungkin saja melibatkan alkohol atau barang terlarang lainnya. Karena saya lebih percaya pada kebersihan makanannya.

Dengan paradigma ini, bisa-bisa saya tidak bisa hidup di Jakarta, kecuali harus repot sendiri memenuhi kebutuhan pangan. Sebenarnya cukup menyenangkan memproduksi makanan sendiri. Paling tidak sebagai hiburan di antara rutinitas. Makanan jadi terlalu sederhana: kubis, kacang panjang, tauge, timun, dengan siraman sambal kacang (beli yang sudah jadi bungkusan). Bisa mentah, atau hanya direbus. Jika bisa diistiqomahkan, saya kira ini bagus adanya. Lebih sehat dan ringan di tubuh.

arghhh... nulis apa sih.

Salam ya...
-ΛM-

No comments:

Post a Comment