Friday, August 8, 2014

Mudik kepada Fitri

Teman, semoga Allah menerima amal-amal kita semua selama bulan Ramadhan dan menjadikan kita kembali suci di hari yang fitri serta memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertaqwa. --latepost.

Di tahun pertama merantau di Jakarta (dulu di Tangerang Selatan kan?), mudik lebaran saya kali ini terbilang tidak sukses. Kriteria penentunya hanya satu: tidak kebagian tiket kereta. Rasanya kok sedih bingits sekali ketika tidak mendapat tiket kereta; yang terbayang adalah perjalanan berpuluh-puluh jam, macet, dan ketidaknyamanan lainnya. Merasa kurang beruntung, karena tidak bisa mendapat tiket kereta dengan cara yang wajar pada H-90 maupun pada saat ada kereta tambahan. Sebenarnya dapat tiket, tapi  berangkatnya pas malam lebaran --dan orang tua tidak berkenan bila kedua anaknya belum di rumah ketika takbir dikumandangkan.

Sebenarnya bisa saja mencari tiket-tiket tidak wajar, dalam artian beli punya orang lain yang hendak dibatalkan. Saya sempat mencoba menyambangi Stasiun Pasar Senen menjelang kepulangan. Saya bertemu dengan seseorang yang hendak mengembalikan tiket couple untuk hari Sabtu, 26 Juli 2014 pagi hari! Itu adalah jadwal mudik paling ideal, menurut saya. Sepasang tiket barangkali cukup. Tapi menjelang hari mudik, kami berharap bisa melakukan perjalanan serombongan keluarga besar. Nah!

Soal mudik, apa sih esensinya sehingga kita rela bersusah payah sepanjang perjalanan sampai kadang mengorbankan waktu-waktu istimewa di penghujung Ramadhan? Bahkan, --maaf-- melalaikan kewajiban sholat dan puasa?

Sepertinya sih, bukan lebarannya/idulfitrinya. Melainkan, kita terlanjur bersepakat untuk libur panjang pada waktu yang bersamaan. Saya anggap, kalian/mereka mudik membersamai jadwal rutin kepulangan saya ke rumah orang tua.

Catatan tak lengkap ini sebenarnya adalah kekecewaan penulis karena tidak mudik/balik dengan kereta api. Itu sudah.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment