Thursday, August 28, 2014

Overtime

Apa arti bekerja bagimu?

Apakah ia aktualisasi diri, hingga dirimu harus melakukan apa yang paling nyaman bagimu? Ataukah ia adalah ibadah, hingga dirimu melepaskan kenyamanan dan yang tertinggal adalah pahala? Tapi bekerja tidak bisa dimuarakan pada satu arti: menjemput nafkah.

Sumber: dokumen pribadi


Aktualisasi diri yang didoktrinkan Abraham Maslow sebagai kebutuhan tertinggi manusia, yang jika itu tercapai maka sempurnalah manusia memenuhi kualifikasi sebagai mahluk mulia, tidak semudah itu disimpulkan. Karena kita harus berbenturan dengan kenyataan, bergesekan dengan kerikil yang menjadikan kita melepas ketajaman, berkompromi, hingga beradaptasi (yang berarti mengubah diri mengikuti faktor eksternal kan?)

Aku jelas-jelas tidak hidup di dunia nirmala. Aku mungkin saja terjebak dengan justifikasi publik bahwa PNS itu bal-bla-bla. Bahkan setuju dengan stigma negatif itu, meski aku jelas-jelas berada di dalamnya.


Oke, sebutlah aku ini naif, yang paham harus pergi tapi tidak tahu ke mana; yang tahu arah jalan tapi tak terbukti sampai kepada tujuan. Yang jelas, kita harus mengusahakan surga kita sendiri melalui dunia yang tak ada extratime ini. Maka, haruslah mengambil overtime. Bisa jadi di siang hari kita mengikuti kehendak dunia, 'instruksi' atasan, arahan rekan seruangan, dlsb. Sehingga, aku harus melemburkan diri untuk diri sendiri di luar jam itu (bisa juga sih di dalam jam normal).


Barangkali, dalam ketersempitan kita pun akan tetap memilih untuk sekedar asal bisa bernafas dulu. Kita akan mengusahakan yang terbaik di antara hal-hal yang tidak nyaman. Kemudian tak sadar kita -aku- terjebak dalam kenyamanan yang telah tereduksi standarnya.


Kita -aku- perlu diam. Untuk menghentikan prasangka yang lahir sebagai reaksi pertama terhadap ketidakberuntungan. Sebagai penantian lahirnya kebijaksanaan, setelah nafas kemarahan dihembuskan panjang; kemudian perlahan menghirup keheningan. Barulah melangkah dengan aksi baru yang tak membodohimu.


:::
ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi, Cinta
perjalanan sunyi
yang kau tempuh sendiri
kuatkanlah hati, Cinta
ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu, Cinta
kekuatan hati yang berpegang janji
genggamlah tanganku cinta
ku tak akan pergi meninggalkanmu sendiri
temani hatimu cinta
ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta
ku teringat hati
yang bertabur mimpi
kemana kau pergi cinta
perjalanan sunyi
engkau tempuh sendiri
kuatkanlah hati cinta
ingatkan engkau kepada
embun pagi bersahaja
yang menemanimu sebelum cahaya
ingatkan engkau kepada
angin yang berhembus mesra
yang kan membelaimu cinta
-Letto: Sebelum Cahaya-
:::
Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment