Monday, September 15, 2014

Mahalnya Bersepeda

Namanya paradoks pilihan, ketika semakin banyak kesempatan memilih, semakin bingunglah kita. Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kaudustakan, ketika Tuhanmu memberi batasan yang justru memudahkanmu dalam memilih?
Service di Rodalink (dok. pribadi)


Jaman dulu, ketika belum punya penghasilan tetap, pengen banget punya sepeda Heist 1.0. Waktu itu keluaran terbaru tahun 2012, warna hitam-kuning. Rasanya itu sepeda terbaik untuk pemula (meski tetap paling mahal di kelasnya). Ketika sudah punya penghasilan sendiri, Heist 1.0 tahun 2013 benar-benar jadi dibeli. "Cita-cita" tercapai. Tapi masalah tidak selesai. Sepeda tetangga selalu tampak lebih berkilau.

Pemilihan pada Heist 1.0 itu lebih banyak berdasar rasio, tidak cukup banyak melibatkan rasa (rasa ingin memiliki ---halah). Logika standar pemilihan adalah cost and benefit (pakai otak kiri). Kalau keperluannya hanya bike to work, pokoknya Heist 1.0 cukup banget (ga usah dielaborasi lagi lah). Dengan harga yang relatif murah, sudah dapat sepeda dengan fitur hybrid dari pabrik sepeda terkemuka di Indonesia.

Begitu ada tawaran dari teman sekantor atas Helios F100 miliknya yang mangkrak di parkiran, dasarnya dulu juga pengen banget punya sepeda tipe balap (meski bukan dropbar), hati ini berdesir-desir, rasa ingin memiliki menjadi demikian menggebu. Semoga argumentasi ini dapat diterima, bahwa inilah perjalanan awal saya berdagang sepeda. Bersama teman kos, sudah 2 kali kami jual beli sepeda. Semuanya Polygon punya #halah.

Tapi, witing tresno jalaran soko kulino, hubungan dengan Si Helios F100 Blue (ingat ya, namanya Safira) tidak seperti hubungan bisnis-profesional. Dan pada akhirnya, logika rasional telah dinafikkan oleh sejumput rasa dalam dada #oposeh. Dari yang tadinya kebutuhan akan sepeda untuk commuting, menjadi keinginan memiliki sepeda yang lincah dan menawan.

Kalau diturutkan, bersepeda yang tadinya murah jadi mahal. Dari yang semula bersepeda sebagai gaya hidup beralih menjadi sekedar hobi. Sebagai gaya hidup, bersepeda itu murah. Tapi sebagai hobi, bersepeda itu mahal.

Gaya hidup bersepeda, seperti berangkat ke kantor dengan sepeda, sepeda sebagai feeder ke stasiun KRL, ke warung Padang kompleks seberang, sangatlah murah. Paling tidak dari sisi ekonominya saja, belum sisi kesehatan, dll. Tapi ternyata itu tidak cukup.

Ingin ke Puncak-Bogor bersepeda, menuruni kebun-kebun teh, menghirup kesegarannya, atau bersicepat di jalur utama ibu kota saat CFD, ini sudah masuk ke ranah hobi. Heist yang hybrid masih kalah di jalan raya oleh sekawanan Helios. Heist juga terpental-pental kalau harus bersaing dengan Cozmix, apalagi Collosus di bukit-bukit hijau di Bogor sana. Untuk memenuhinya, kita musti merogoh kocek yang tak ringan.

Kalau pernah ke Masjid Gadog, di sana Sabtu-Minggu pagi rama orang bersepeda. Mereka datang dari berbagai daerah. Ke sana pakai apa? Mereka tidak ngonthel dari, misalnya, Jakarta sampai ke Bogor seperti saya. Mereka pakai mobil, ada yang sewa ada yang milik. Nah, itu kan biaya.

Ohya, perbedaan antara kebutuhan dan keinginan secara gamblang dapat dilihat dari contoh berikut. Ketika haus, seseorang dapat menghilangkan dahaganya dengan hanya meminum segelas air putih. Tapi bisa juga segelas air putih itu diganti dengan segelas air berwarna, minuman roso-roso, susu, atau lainnya. Sudah pasti ada perbedaan harganya. Mudeng?

Apapun itu, tetaplah bersepeda.
Salam,
-ΛM-

5 comments:

  1. Makin bersinar saja kawan yang satu ini...keren dul..

    ReplyDelete
  2. Kisah blogmu dul...ternyata sudah menetap di Jakarta kamu.. :D

    ReplyDelete
  3. masih di bumi yang sama, mungkin belahannya yg lain. eh, jangan2 Wiii juga di Jakarta keh?

    ReplyDelete
  4. Disyukuri mas... Masih bisa bersepeda sebagai Gaya Hidup Sehat

    ReplyDelete