Tuesday, September 30, 2014

Satu Tahun

September hendak berakhir beberapa jam lagi. Sudahkah kau bangun? Itu lho, yang katanya "wake me up when September ends".
CFD Minggu, Monas (dok. pribadi)


30 September tahun lalu adalah pertama kali aku -kami seangkatan- memulai tugas negara di DJA, sebuah kantor eselon I pada Kementerian Keuangan yang tugas pokoknya membuat penganggaran. Sudah satu tahun ya? Di antara hak memilih 3 instansi eselon I, kesempatan memperjuangkan pilihan melalui TKD, restu orang tua, dan doa, semuanya telah bersepakat membentuk takdir penempatanku di DJA. Kemudian secara khusus dan cukup ajaib, berada di Direktorat Penyusunan APBN, yang kompetensi teknis umumnya (disepakati wajib dimiliki semua pegawai di direktorat tsb -idealnya sih-) adalah Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal.

Awalnya memang aku berharap bisa ditempatkan di instansi yang konsentrasi utamanya terkait ekonomi makro dan kebijakan fiskal, yakni BKF. Alhamdulillah, Allah mengabulkan sebagiannya di DJA, dengan fasilitas-fasilitas yang 'berbeda' sesuai dengan karakteristik masing-masing instansi. BKF yang menyusun kebijakan-kebijakan ekonomi sektor fiskalnya Indonesia, tentu berbeda dengan pelaksana teknis di bidang keuangan yang tugasnya menyusun APBN Indonesia. Dunia riset dan dunia praktik.

It's fine by me, then. Bahkan aku tidak tau apa yang terbaik untuk diriku sendiri. Maka, kemudian, aku harus menyimpulkan: DJA adalah pilihan Allah untukku belajar tentang banyak hal, selain tentang keuangan negara.

Soal Jakarta dan permasalahannya, aku mulai berdamai. Kemacetan-kesemrawutan, religiusitas-kriminalitas, glamorous-fortuneless, kemajuan-ketertinggalan, kepandaian-kepicikan dan kebodohan; segalanya ada di Jakarta. Termasuk orang gila tanpa busana, ada di ibukota.

Jakarta Residence 'River View' (dok. pribadi)
Penempatan di instansi pusat, artinya selama menjadi bagian dari pemerintah di bidang keuangan negara, insyaAllah akan selalu berada di pusat pemerintahan (ibukota) yang sampai saat ini masih bertempat di Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Cuma mau bilang: kamu juga harus tinggal di ibukota, entah siapapun kamu teman seperahuku nanti. #tsaaaaaaahhhhh apasih. Menurutku sih, tinggal di ibukota jadi salah satu batu loncatan yang potensial untuk tinggal di ibukota lain negara. Percaya deh. Secara, lebih deket ke sumber informasi (ini dalam perspektif bekerja sebagai birokrat loh ya).

Kemacetan dapat kuakali dengan bersepeda berangkat dan pulang kantor. Kemehawan, kadang-kadang, kunikmati juga atas nama 'fasilitas negara' dan tuntutan pergaulan. Sebelum berpikir terlalu jauh, kemewahan yang kuikuti ini paling-paling hanya rapat di hotel sampai menginap (tapi jarang kok) atau mengiyakan ajakan teman makan di mall (yang ini lebih jarang lagi, kecuali terpaksa ikut dalam rangka buka bersama misalnya).
Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI dengan Pemerintah tentang RAPBN 2015 (dok. pribadi)
Sempatkanlah mampir sholat dzuhur di masjid kompleks kantor pusat Kemenkeu hari Senin atau Rabu: kalau saja kamu berangkat dari ruangan ketika adzan hampir selesai, maka kamu mendapat barisan di teras luar! Masjid akan dipenuhi jamaah berseragam biru muda (atau abu-abu?). Paling tidak, di Jakarta mudah sekali mendapati imam sholat dengan kualitas bacaan yang lebih baik daripada di kampung sendiri (tapi salut untuk kawan yang memilih penempatan di daerah dengan jumlah penduduk muslim minim dan pemahaman yang 'tradisional' demi niat berdakwah).

Memandangi pemukiman padat penduduk di arah timur (kanan) atau jajaran gedung perkantoran di arah barat (kiri) dari lantai 18 DJA, bisa menjadi gambaran umum Jakarta. Kebetulan sekali, barat memang identik dengan kemewahan dan timur berasosiasi dengan kesahajaan. Jakarta adalah kombinasi keduanya. Jelas, aku tinggal di arah timur dari kantor. Dan, di antara kesukaanku di waktu luang adalah berjalan-jalan di lorong-lorong sempit atau bersepeda di gang-gang kumuh kaum urban Jakarta. Ini menyenangkan, bukan lantaran bisa melihat saudara sebangsa yang kondisi tampaknya tidak lebih baik dariku. Tapi, dengan menyambagi mereka, walaupun tak bisa membantu, menjadi latihan bagi kepekaan hati insani apalagi sebagai supporting tim penyusunan APBN.
Jembatan yang -katanya- Ada di Clip-nya BCL, di Atas Ciliwung (dok. pribadi)

Santai, aku tidak akan memintamu tinggal di situ. Sekali dua kita perlu jalan-jalan yang seperti itu, olahraga dan olahhati.

Lalu, sepanjang satu tahun ini (10% dari ikatan dinas), apa yang telah kamu berikan untuk negerimu?

Selamat malam, Masyarakat. Semoga kalian senantiasa diselimuti kasih sayang, dianugerahi kepandaian untuk memuji dan bersyukur kepada Allah atas segala hal, dan diajarkan untuk selalu merasa dilindungi dan dijaga oleh Pemilik dan Pencipta seisi alam (termasuk mencipta kamu... iya, kamu). Aku belum bisa memberikan apa-apa untuk bangsa, bahkan mungkin untuk keluarga dan tetangga. Semoga saja doa ini diterima.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment