Monday, September 8, 2014

Solotrip Bukit Pelangi-Bukit Az Zikra

Mengapa solotrip?
Namanya juga mengasingkan diri. Mungkin ada beberapa orang yang mau diajak duet atau lebih untuk melakoni persepedaan dari Jakarta ke Bogor tanpa bantuan mobil pengangkut, tapi aku -sedang- lebih suka petualangan sendiri. Sabtu-Minggu di Puncak banyak sekali ditemui pesepeda dari berbagai daerah di luar Bogor. Nah, ketika aku dua minggu diklat di Gadog-Jalan Raya Puncak inilah timbul keinginan demikian menggebu untuk ikut jua merasakan sensasi bersepeda di kawasan sejuk tapi macet tiap akhir pekan ini. Tentu sulit menemukan orang yang berkeinginan sama sepertiku.
Mendaki Bukit Pelangi (dok. pribadi)

Bukit Pelangi
Ke Bukit Pelangi, apa yang kau cari?
Aku tidak mencari diriku sendiri di keheningan, apalagi di keramaian. Tidak perlu mencari-ku, tapi membentuk-ku. "Life isn't about finding yourself. Life is about creating yourself." (George Bernard Shaw).

Tapi aku tak sendiri. Kupilih teman --sebut saja dia-- Safira (Sapphire) si istri muda: Helios F100 Blue. Aku ingin dia mengajakku jalan-jalan, eh sepeda-sepedaan.

Jika ingin menuju Puncak via Bukit Pelangi, titik paling mudah untuk mengawalinya adalah dari kawasan Pintu Tol Sentul Selatan. Di situ pula kawasan Sentul City, Sentul International Convention Center (SICC). Aku datang dari arah Sirkuit Sentul. Setelah melewati SICC, menyembul dari pepohonan beberapa menara seperti melindungi kubah biru nan cantik di tengahnya. Kupikir itu adalah masjid yang sebelumnya telah kutandai untuk kukunjungi.

Sayangnya aku terpaksa tidak mampir 'asharan di sini karena belum masuk waktu dan mengingat jarak tempuh yang masih jauh untuk keluar dari kawasan perbukitan ini nantinya. Tidak lucu terkurung gelap di antara bukit yang masih banyak pepohonan. Dan, apa yang akan terlihat dari keindahan bukit kalau sudah malam?
Masjid Andalusia di Markas Besar Ekonomi Islam Ust. Syafii Antonio (dok. pribadi)
Aku sarankan untuk melewati jalan di depan masjid ini saja, yakni jalan menuju perumahan-perumahan mewah di bukit Sentul. Tentunya bukan jalan umum, tapi tersedia jalur khusus sepeda. Jalan utama menuju Bukit Pelangi (di plang banyak tertulis bahasa Inggrisnya: Rainbow Hill) ramai kendaraan dan agak tersendat. Tapi akhirnya aku keluar dari kompleks tadi dan menuju jalur seharusnya yang sudah lengang.

Setelah pendakian panjang, istirahat sholat 'ashar, terus saja mengikuti satu jalan sampai hanya perlu mengambil satu jalan di pertigaan dan ketika belok itulah gerbang Bukit Pelangi. Tersenyumlah dengan petugas keamanan yang membukakan portal untuk Anda.
Mejeng (istirahat sebenarnya) di Tanjakan Bukit Pelangi (dok. pribadi)
Tetap Berdiri, Setelah Kecelakaan Tunggal (dok. pribadi)
Aku dan Safira Berjauhan, Belum 'Akur' Setelah Kecelakaan Tunggal (dok. pribadi)
Danau di Bukit Pelangi
Danau di Bukit Pelangi (dok. pribadi)
Banyak muda-mudi melintasi bukit ini. Nanti malam Minggu ya? Suatu waktu, aku perlu mengajakmu. Tentu tidak bersepeda.
Di Seberang Jalan dari Danau (dok. pribadi)
Tikungan di Bukit Pelangi (dok. pribadi)
Benar saja, maghrib datang lebih cepat daripada kegesitan si Safira menghabiskan kelokan mesra di penghujung bukit. Aku harus menemukan masjid terdekat untuk sholat, sayangnya itu susah. Ishoma di masjid antah berantah kemudian, sampai 'isya.

Di mana kau menginap?
Sampai menuliskan post ini, orang tuaku tak tahu dengan perjalanan ini (Tapi segera setelah mbakyu membaca blog ini, dia akan laporan tentunya). Tapi ini bukan kali pertama aku mbolang sampai tak pulang. Menginap sembarang tempat bukan masalah. Tidak sepenuhnya tanpa masalah sih. Aku hanya mengkhawatirkan kamu... iya, kamu Safira. Kehilanganmu aku bisa galau. haha. Akhirnya aku menginap di asrama tempat saya diklat bulan lalu (dua minggu yll). Barangkali ini adalah kesalahan keduaku (yang benar-benar tampak). Dalam pengasingan diri ini, aku takut akan kehilangan, lalu menghampiri kenyamanan, hingga bertemu dengan para peserta diklat yang adalah teman-teman sekantor (meski beda angkatan).

Harusnya, perjalanan ini adalah anonim. Tidak menemui siapapun yang kukenal. Jangan pernah berbuat salah dengan orang yang hanya bertemu sekali lewat. Tersenyum pada penduduk sekitar, menyapa sesama pesepeda (dengan membunyikan bel). Seharusnya pula, aku menginap di masjid Gadog berikut ini. Di masjid ini, Sabtu-Minggu pagi, selalu ramai mobil parkir. Kebanyakan pesepeda memulai pendakian dari masjid ini, setelah perjalanan bermobil dari berbagai daerah.
Masjid Gadog, Basecamp Para Pesepeda-Pendaki (dok. pribadi)
Bukit Az Zikra
Niat ke Puncak harus kuurungkan, sebab aku terlalu dini masuk ke penginapan (asrama diklat). Waktu yang tersedia hanya malam sehabis 'isya tadi. Kupikir, 20 km mendaki terlalu berat di malam hari, ketika tenaga sudah berceceran di jalan berkilo-kilometer pendakian Bukit Pelangi, dan berserakan puluhan km dari Jakarta. Dan esok paginya aku harus kembali ke Sentul Selatan untuk mengikuti sebuah acara bulanan yang belum pernah kudatangi.

Bukan kebetulan kalau bersamaan dengan pembolanganku ke Bogor kali ini Majelis Az Zikra asuhan Ust. Arifin Ilham menyanjungkan pujian-pujian dan bertukaran nasihat serta salam di Masjid Az Zikra, kompleks pemukiman muslim di Bukit Az Zikra.
Majelis Az Zikra (dok. pribadi)
Aku pun ingin mengajakmu ke sini: berkumpul karena-Nya, berpisah karena-Nya. Mengingat-Nya. Menangis. Dan berdoa.
Maket Masjid Az Zikra [dulu bernama Masjid Muammar Qaddafy] (dok. pribadi)
 Pulang
Jembatan di atas Tol (dok. pribadi)
Jalan yang Mengiringi Tol Jagorawi (dok. pribadi)
Menyeberang (dok. pribadi)
Kesimpulan
  • Kecelakaan tunggal yang terjadi di turunan pertama Bukit Pelangi adalah murni kesalahan pengendara. Jangan berkendara sambil pegang SP (smartphone)!
  • Seharusnya aku mengajak Heist 1.0. Dia lebih stabil. Mungkin agak berat mengayuhnya, tidak segesit Safira, tapi dia tidak banyak membonceng bahaya. Tadinya aku mengira jalan yang kulalui hanya akan berupa aspal halus. Kenyataannya, aku blusukan ke parit-parit juga. Termasuk melewati jalanan kecil berkerikil di samping kanan-kiri tol daripada jalanan memutar yang halus, demi mengefektifkan waktu. Si Safira yang gadis kekota-kotaan ini terlalu enggan menjamahnya.
  • Heist 1.0 dan Helios F100 tidak cocok dipadukan (dimiliki bersama). Fungsi keduanya berdampingan. Kalau cuma punya satu, Heist 1.0 cukup. Kalau mau dua dan salah satunya Helios, perlu cari pengganti yang spesifikasinya sepeda gunung, atau bahkan sepeda lipat.
  • Puncak tetap belum kutaklukan. Padahal ia tak semenantan Dieng Plateau yang menjulang hampir dua kalinya dan kutaklukan dengan sepeda yang butut adanya. Suatu saat harus mendaki Puncak lagi, sampai ke kebun-kebun tehnya!
Behind the Scene
Belum keluar dari kungkungan Jakarta inner ring road, mbak Safira sudah bocor ban belakangnya. Bocor... bocor... bocor... Mencari tukang tambal ban sepeda di Jakarta sama susahnya mencari ATM di Kebumen.

'Nyonya Muda' yang Rentan (dok. pribadi)
Salam,
-ΛM-

2 comments:

  1. Heemmmm... makin menjadi aja kelakuannya. Mentang2 ga ada yg ngawasin,


    Btw kpn dikenalin ma safira????

    Mauuuuu

    ReplyDelete
  2. yah... ketahuan deh..
    kayaknya kalau mau ke pasming bawanya yg putih deh, bukan Safira. makanya, sini main ke lap. banteng.. hehe

    ReplyDelete