Tuesday, October 7, 2014

Jaminan

Sepagi ini sudah ditelpon dari nomer asing dengan kode wilayah Jakarta. Saya pikir dari kantor sendiri. Ternyata dari sebuah bank yang saya menjadi nasabahnya. Mbak-mbak itu menawarkan sebuah program asuransi yang pada akhirnya, setelah hampir 10 menit percakapan yang didominasi olehnya, saya harus menolaknya dari satu pertimbangan saja.

Apa satu pertimbangan itu? Prinsip.


Sebagai seorang muslim yang bekerja di bidang keuangan, saya menuntut diri untuk tahu bagaimana pengelolaan keuangan pribadi yang syar'i. Dalam kasus ini, bukan sekedar soal asuransi tersebut syariah atau tidak. Lebih dari itu: apakah asuransi itu sendiri sesuai dengan prinsip Islam atau tidak.

Sepengetahuan saya, asuransi itu begini: kita menyetor uang sebagai iuran rutin per bulan; pada kondisi asuransi itu bisa diklaim, kita mendapat sejumlah dana yang besarnya sebagaimana telah ditentukan oleh perjanjian/peraturan yang disepakati bersama. Terlepas dari pengelolaan uang dari pihak perusahaan asuransi, syariah atau tidak, kita telah melakukan pertaruhan. Kita telah membeli jaminan di masa depan dengan harta kita di masa kini.

Kita mengkhawatirkan sesuatu yang buruk terjadi pada diri kita lalu asuransi sebagai tindakan preventif jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Tapi, asuransi bukanlah tindakan preventif yang baik. Atau jangan-jangan kita tergiur dengan sejumlah dana yang bisa diklaim, yang tentu lebih besar daripada jumlah iuran kita? (dengan catatan: kita harus memenuhi syarat klaim asuransi, misal kecelakaan).

Lalu, bukankah lebih baik jika saat mendapat musibah, telah ada jaminan yang membantu pemulihan keuangan kita, daripada sudah jatuh tertimpa tangga? Memang bantahan tersebut terdengar logis.

Baiklah. Karena saya telah menolak sistem penjaminan dengan asuransi ini, maka seharusnya saya memberikan solusi untuk masalah penjaminan ini.

Mata uang paling ampuh adalah komoditas (barang dagang utama). Jangan salah ya, jangan jadikan uang sebagai komoditas. Tapi komoditas adalah uang yang sesungguhnya. Seseorang yang menyimpan hartanya dalam bentuk uang keras (hardcash), lebih mungkin menderita kerugian (akibat inflasi) daripada seseorang yang menyimpan beras dengan nilai ekonomis yang sama pada awalnya. Dan, tentu saja, komoditas yang paling memenuhi untuk disimpan dengan mudah dalam waktu lama adalah emas. Kalau memang mau membuat sistem asuransi sendiri, pakailah emas sebagai instrumen finansial pribadi. Memang, kita tidak mendapat imbal baik yang fantastis dari penyimpanan emas, karena ianya hanya mempertahankan nilai harta dari gerusan inflasi.

Jika ditanya tindakan preventif apa yang paling baik untuk menolak bala', jawabannya adalah sedekah. Ia tidak hanya menolak bala', tetapi juga pemerataan pendapatan (permasalah ekonomi masa kini sebenarnya adalah kesenjangan pendapatan), sebagai bentuk social responsibility, merekatkan persaudaraan, dll. Dengan sejumlah dana yang sama, daripada kau habiskan untuk beriur asuransi, lebih baik kau sedekahkan saja uangmu. Kalau sedekah itu dirasa tidak logis sebagai asuransi jiwa tolak bala', ya mending kau tabung uangmu dalam bentuk emas.

Ketika kita mati, memang tidak butuh lagi segala macam keduniaan. Tapi bagaimana dengan keluarga atau ahli waris? Abu Bakar ash Shiddiq menjawabnya, "Kutinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya."

Ada motivator yang bilang, "Muslim yang kuat meninggalkan aset untuk keluarganya, sedang muslim yang lemah meninggalkan utang."

Ok. Tabungan dalam bentuk emas bisa memenuhi kualifikasi untuk menjadi muslim yang kuat versi motivator tadi.

And the last but not least, serah-kembalikan saja semuanya pada Allah, setelah kita melakukan usaha sebagai tindakan preventif terhadap takdir Allah yang mungkin menghampiri kita, sebagaimana doa yang bisa jadi mengubah takdir kita.

Salam,
-ΛM-
Staf Pemula di penyusunan anggarannya Indonesia {bhahahaha...:-)}

No comments:

Post a Comment