Thursday, October 2, 2014

Kado dari "Ayah": 1st Anniversary

Ini dia kadonya (klik).
Screenshot Pasal PMK yang Bikin Ngeri
Menjelang pisahnya DJP, DJBC, dan Dit. PNBP DJA dari Kemenkeu dan membentuk kementerian/lembaga negara tersendiri khusus bertugas mengumpulkan penerimaan negara, Sekretariat Jenderal Kemenkeu tidak ingin ada eksodus besar-besaran dari anak-anak asuh mereka. Seolah-olah para petualang yang ingin menyeberang kawasan pada pagi hari ini terkurung oleh tembok Berlin yang kemarin tidak ada.

Bahkan PMK ini menjegal mereka yang ingin melepas dari jubah kenyamanan dan berganti seragam perang perjuangan.


Yang kemudian terpikir olehku bukan lagi kemungkinan melepaskan diri sendiri, mundur dari Kemenkeu dan/atau PNS. Akan tetapi, pikiranku melompat jaut ke pertanyaan: bagaimana kalau Allah menjodohkanku dengan teman satu almamater? Sebab, sampai saat ini aku berencana menerapkan kebijakan bahwa 'ibu negara' haruslah tidak bekerja di luar rumah sampai dengan 8 jam sehari (belum termasuk waktu berangkat dan pulang).

Aneh, harusnya syarat "tidak bekerja di luar rumah sampai dengan 8 jam sehari" masuk ke dalam kriteria ketika mencari calon istri dong!? Jadi, teman-teman satu almamater tidak masuk kualifikasi.

Ya, ini kan mencoba membayangkan semua kemungkinan. Ini hanyalah salah satu kemungkinan yang perlu betul mendapat perhatian. Ikatan dinas adalah suatu dilema. Bisa jadi ia berkah bagi mereka yang berharap bisa mengabdi di Kemenkeu selamanya. Bisa juga menjadi tantangan bagi kami yang ingin mengadu nasib di luar zona nyaman. Ya, bagaimana jika kamu juga menghadapi dilema ikatan dinas ini? Lalu dua dilema menjadi satu?

Secara, kalau seorang saja harus membayar ganti rugi hampir 70 juta, ya lebih afdhol harta itu buat daftar haji berdua sama istri lah. Tentu saja, aktualisasi diri yang diharapkan bisa tercapai dengan bekerja independen sebagai non-PNS harus dinomorduakan oleh penghambaaan pada Allah, jika pilihan disandingkan dengan kesempatan menyempurnakan rukun yang kelima.

Bisa sih tanpa membayar ganti rugi, dengan syarat: tidak mengambil TRANSKRIP NILAI dan IJAZAH.

Dipikir sambil menjemputmu saja dulu, baru kita berdiskusi.

Salam.
-ΛM-

NB: Kabar PMK ini menyebar pada ulang tahun pertama kami menjadi keluarga besar Kemenkeu.

No comments:

Post a Comment