Thursday, November 27, 2014

BBM Naik, Masyarakat Beralih ke Sepeda

Ini adalah judul berita yang saya harapkan muncul di media-media online.

Sesungguhnya saya tidak begitu peduli dengan hemat bahan bakar dengan bersepeda, eco-green life style, dan segala ragam propaganda mulia agar orang beralih ke sepeda. Tentu saja saya setuju dengan semua hal positif dari bersepeda itu. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam bersepeda, terutama dalam rangka bersepeda berangkat dan pulang dari tempat kerja atau bike to work.



Bersepeda belum tentu menyehatkan. Apalagi di Jakarta. Bisa jadi para pesepeda menghirup lebih banyak udara kotor daripada pengguna jalan lainnya, karena ia membutuhkan suplai oksigen yang lebih banyak. Fisik prima dengan paru-paru yang kacau, justru lebih mengkhawatirkan; menyerang dari dalam tanpa kita sadari. Apalagi jika tidak diiringi dengan pola makan baik.

Belum tentu bersepeda lebih hemat daripada menggunakan angkutan umum atau motor pribadi. Karena, memiliki sepeda tidak berarti tidak membeli sepeda motor. Banyak keadaan memaksa kita untuk berkendara sepeda motor untuk bepergian. Meski telah membeli sepeda, haruslah pula mempunyai motor. Dan, setiap tiga puluh kilometer, pesepeda perlu mengisi ulang cairan yang ada di tubuhnya lebih banyak daripada yang dibutuhkan mesin sepeda motor terhadap bahan bakar.

Terkait konsumsi BBM yang begitu tinggi di negeri ini, saya bisa apa? Mungkin dengan bersepeda ke kantor, negara berhemat 2 atau 3 liter bensin per minggu, atau 100-an liter per tahun. Tidak signifikan dibanding konsumsi negara saat ini yang mencapai 150 juta liter per hari. Dan apa peduli saya dengan cadangan minyak Indonesia yang mungkin tinggal 10 tahun lagi? Saya tidak ingin muluk-muluk tentang Save Our Earth atau apalah, toh bukan itu juga yang menarik saya ke dalam persepedaan ini.

Kesederhanaan? Era Oemar Bakrie sudah lama ditimbun sejarah. Bersepeda di jaman ini berbeda dengan jaman dulu, apalagi di Jakarta. Bersepeda adalah kemewahan, meski bukan berarti kekayaan, yang tak banyak orang bisa menikmatinya. Sedangkan sepeda di jaman dulu adalah moda transportasi standar.

It's just me, and I want to ride my bicycle.

Ini tahun yang tepat untuk memulai dan menekuni bike to work. Mungkin ketika datang masa berkeluarga, istri tidak mengizinkan suami pulang kerja dalam keadaan berkeringat meski tak lelah. Barangkali bukan lelah yang tidak diizinkan, tapi biar lebih cepat sampai rumah saja kalau pakai kendaraan bermotor pribadi. Atau jika sama-sama bekerja, tidak mungkin kan berboncengan dengan sepeda untuk rutinitas bekerja. Kalau untuk berboncengan sepeda santai di tepi pantai, itu baru perlu. Dan saya berharap masa berkeluarga itu tidak lama lagi #eh.

Jika pun Indonesia ini benar-benar raja minyak dengan ditemukannya cadangan-cadangan minyak yang saat ini mungkin masih tersembunyi, saya tetap ingin bersepeda (cateris paribus dalam hal jika nanti istri tidak berkehendak lain).

Barangkali masyarakat Indonesia masih kagum dengan roda berpenggerak mesin. Di desa-desa, motor masihlah kemewahan, tanda orang sedikit berada. Di kota, sesungguhnya tidak tepat benar bila motor adalah keharusan, tapi biar saja. Sebenarnya mereka malas dan manja yang dihadapkan pada kekecewaan atas pelayanan umum transportasi, tapi tetap memaksa diri membuang sumber daya tanpa perhitungan biaya-manfaatnya, setidaknya bagi dirinya sendiri.
*
Beberapa hari saya mengendapkan tulisan ini. Harusnya Jumat kemarin di-post. Dan besok sudah Jumat lagi. Baiklah, meski saya mendapati tulisan ini kacau pada arus berpikirnya: berharap orang-orang juga turut bergaya hidup sepeda seperti dirinya, tapi dia tak peduli dengan manfaat dari apa yang dilakukannya dan tidak melakukan usaha persuasif mewujudkannya (sekedar berharap); saya harus mem-publish tulisan ini juga sore ini.

Seandainya dengan bersepeda setiap hari berangkat ke dan pulang dari kantor memberi manfaat bagi hematnya konsumsi BBM dalam negeri; seandainya aktivitas ini mengurangi bertambahnya udara kotor Jakarta karena asap knalpot; seandainya ......... ; dan seandainya lainnya yang memberi manfaat bagi lingkungan yang berasal dari aktivitas para bike to workers termasuk saya, silahkan dinikmati, boleh diikuti, tapi tak perlu dihormati atas pilihan hidup ini.

Salam,

-ΛM-

No comments:

Post a Comment