Tuesday, November 4, 2014

Satu Tahun di Bawah Langit Batavia

Selamat sore, Gaes. Duduk di beranda, berseliweran orang bercerita tentang kota-kota yang mereka banggakan dengan karakter uniknya.


Jogja yang berhati nyaman, kota pelajar, kota budaya, kota yang romantis, bahkan mereka mengaku segalanya ada di Jogja. Pernah menghirup udara Jogja hanya sebulan singkatnya, tak mungkin saya mengaku sebagai salah satu warganya. Maka, ketika mendengar mereka bernostalgia tentang Jogja, saya hanya dapat menelan ludah yang sudah kering. Dan dalam kebisuan itu saya bertanya: kenapa dulu lekas benar saya pamit darinya?

Bandung juga. Bersama walikotanya yang sekarang, Kota Kembang semakin eksis dengan tatanan diri yang modern dan modis. Pernah bertamu ke ibukota Priangan selama sebulan pun tak mungkin menjadikan saya bisa merasa tersanjung dengan kemajuan-kemajuan kota. Yah, paling hanya ikut berbahagia dengan kabar-kabar baik yang datang daripadanya, tanpa boleh bersorak-sorai bersama.

Banyak kota lain di Indonesia yang menjadi kebanggaan masing-masing penduduknya. Tapi mungkin hanya dua ini saja yang warganya begitu menampakkan rasa bangga memilikinya, bahkan mereka yang sekedar pengunjung singkatnya.

Lalu apa kabar Jakarta sebagai ibukota Indonesia yang kini telah 1 tahun kutinggali?

Sangat tidak terasa sudah satu tahun berlomba cepat dalam kemacetan, berjibaku dalam kepadatan, berebut udara yang tak benar-benar bersih di bawah kungkungan langit Batavia, dalam rangka meniti karir sebagai Nagara Dana Rakca. Aih.... kalau bisa memilih tempat tinggal dan bekerja sekehendak hati, mestilah daku bingung juga mau bermukim di mana tempat. Biarlah Allah yang menempatkan kita dimana Dia ingin kita menjadi khalifah-Nya. Meski begitu, Jakarta adalah pilihan yang kuajukan. Semoga Allah ridho --karena kalau tidak, bisa saja penempatanku di mana saja seluruh Nusantara.

Well hey, Jekardah. Kau telah menjadi panggung hidup seorang perantau pemula, anak bungsu dari keluarga kecil yang anak sulungnya telah lebih dulu mengarungi hidup di ibukota juga. Ah, aku merindukan adik yang tak pernah sempat menangis ketika harus berpisah dari rahim ibunya.

Atas nama adaptasi,  kudapati diri sendiri banyak berubah......jadi semakin romantis. Atau nggombal? Duh, Kok nglantur. Bukan dua-duanya. Yang jelas, berubah.

Kakakku sendiri yang bilang, kelakuanku semakin menjadi saja mentang-mentang ga ada yang ngawasin. Sebenarnya kalimat ini ditujukan untuk persepedaanku dari Jakarta ke Bogor, pulang-pergi, yang menurutnya sudah kelewatan (mungkin). Yang jelas, hidup sendirian itu tidak mudah, hingga mungkin saja berlaku 'semakin menjadi saja'. Tidak ada yang mengawasi, kecuali Allah dan malaikat-Nya tentu saja.

Sebenarnya sepi akan sangat nikmat bila kita bisa mengubahnya menjadi keheningan yang dengannya kita bermunajat, untuk bertekur dengan zikir, bercumbu dengan buku, atau sekedar berpikir mendalami diri sendiri. Tapi mata ini terlalu silau oleh warna-warni dunia ibu kota.

Setahun di ibu kota, aku mulai lupa pada penampakan langit dan kecintaan akannya, tapi nostalgia berkait tentangnya masih saja menarikku kepada bayang-bayang yang sehitam langit malam Jakarta tanpa bintang. Meski kita berdiri di belahan Bumi yang berbeda, kita dilindungi oleh langit yang sama. Tapi langit yang satu itu pun menampilkan wajah yang tak serupa. Langit Jakarta tak senyaman langitmu untuk berlama-lama berbaring di bawahnya

Kalau kau tak mendengar kabar apapun tentangku, percayalah aku baik-baik saja. Tentu bukan khawatirmu yang kutakutkan, tapi lebih kepada penasaranmu: mengapa tak ada kabar dariku. Aku baik-baik saja. Mungkin tidak setepat itu. Ada kala di mana kesendirian ternyata sepi, ketika angan melintas batas tetapi pandang terkurung dinding. Ketika itu aku goyah, tergoda berat untuk menyapamu, juga menyapa yang lain. Hampir saja kalah. Maaf.

Ya, sebenarnya kita pernah bersapa, sebatas formalitas sebagai teman lama yang bertukar informasi. Bertukar informasi, bukan saling melepas rindu harap dan menangkap mimpi.

Selebih dari itu, kalau aku tak pernah menyapamu, itu karena kata-kata yang kumiliki kuunggah sebagai doa. Biar Allah yang menyampaikannya untukmu. Mungkin sebagai hujan. Atau dalam mimpi.

Salam,

-ΛM-

3 comments:

  1. mantap mas bro...
    smoga di Jakarta cita2 kita dapat terwujud.. aamiin...

    ReplyDelete
  2. "Ketika itu aku goyah, tergoda berat untuk menyapamu, juga menyapa yang lain. Hampir saja kalah."

    ehem ehem... siapa tuh Brur? ^_^

    ReplyDelete
  3. Kang Nandar: matur nuhun kang bro..

    Mba Nana: "mu" merefer kepada subjek yg belum terdefinisi..

    ReplyDelete