Monday, December 15, 2014

Perencanaan Keuangan untuk Pemula: Sebuah Perkenalan

Akhir tahun seperti sekarang ini, sejatinya pekerjaan tidak terlalu menyibukkan. Tapi pulang kantor tetap tak bisa sore-sore. Hampir selalu malam, karena ada rapat di dalam kantor di luar jam kerja. Kejar penyerapan setoran. Paling hanya kerjaan yang bersifat rutinitas. Penyusunan APBN 2015 telah selesai beberapa hari sebelum SBY lengser keprabon, bahkan Perpres rincian APBN sudah ditandatangani, juga masih oleh SBY. Agenda penyusunan APBN Perubahan 2015 sudah terdengar karena memang datangnya lebih cepat bahkan sebelum APBN 2015 dilaksanakan. Yah, namanya juga pergantian penguasa. Tapi dari jadwal yang beredar, kesibukan nyata mungkin baru bermunculan setelah pergantian tahun.

Di sela-sela rutinitas ini izinkan saya berbagi pendapat tentang perencanaan keuangan pribadi. Tulisan ini sebenarnya teruntuk mbakyu AAE, dan untuk diri saya sendiri.

Disclaimer: tulisan ini bukanlah professional judgement, jauh dari ilmiah, barangkali sekedar opini seseorang yang mengaku-aku suka baca sedikit tentang keuangan (lalu merangkum kesimpulan dari para ahli) dan perlu didiskusikan lebih lanjut.

Perlunya Merencanakan Keuangan
  • Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas rizki: bagaimana menjemputnya dan kemana dialirkannya.
  • Tidak akan dicabut nyawa manusia sebelum sempurna rizkinya.
Berangkat dari dua premis di atas, bagian keuangan yang perlu direncanakan-dianggarkan adalah sisi pengeluaran atau belanjanya (untuk apa saja rizki dimanfaatkan). Urusan pendapatan, meski tidak selalu berarti jumlah rizki (materi) yang Allah titipkan pada kita, serahkan saja pada Kehendak-Nya.

Identifikasi Kebutuhan

Hasil perhitungan sementara Kebutuhan Hidup Layak (KHL) 2015 DKI Jakarta berada pada kisaran 2,3 juta. Saya rasa jumlah ini cukup relevan (berkaca pada pengeluaran pribadi bulanan untuk pria single). Namun, jika ditinjau dari komponen terhitungnya, perlu beberapa penyesuaian. Misalnya, dalam perhitungan KHL, yang dihitung adalah biaya sewa/kontrak tempat tinggal. Tentunya, orang lebih banyak mengharapkan tempat tinggal milik meski harus mengangsur dengan nominal yang lebih besar. Maka, nilai KHL tersebut perlu dikoreksi untuk orang sejenis kita-kita ini. Misalnya sebut saja 'KHL-terkoreksi' menjadi ..... kurang dari 2,3 juta; mengurangkan komponen sewa rumah/kost/kontrakan dan menggantinya dengan komponen cicilan rumah untuk jangka waktu terpanjang (15 tahun) di kota-kota satelit yang saya masukkan ke dalam kategori financing.

KHL ini telah mempertimbangkan sejumlah nominal untuk ditabung, namun jumlahnya hanya 2%. Tentu tidak cukup. Saving dalam artian dana cadangan setidaknya 5% dari semua komponen penyusun KHL, bagus juga 10% dari total anggaran. Satu hal yang perlu diperhatikan lagi adalah investasi. Jadi, secara kasar, anggaran kita dalam sebulan adalah X juta ('KHL-terkoreksi' + invenstment financing saving + dana transfer).

Untuk dapat hidup bersahaja di bumi katulistiwa, khususnya Batavia, anggaran sejumlah tersebut insyaAllah mencukupi, termasuk dalam jangka panjang dapat menyelesaikan agenda-agenda besar finansial kita: menikah, membeli rumah (dalam 15 tahun), kendaraan yang nyaman, pendidikan anak, tabungan haji, dll.

Jika kita mempunyai penghasilan di atas angka tersebut--haruslah di atas angka tersebut, agar-- idealnya, kelebihannya dialirkan untuk pemerataan pendapatan dalam bentuk infaq dan shodaqoh (zakat harusnya sudah masuk KHL).

Rincian Anggaran

Secara mudah, kita bagi saja Anggaan ke kategori ini: KHL (terkoreksi)/daily needs, Investment, Saving, Financing.

Sebagaimana hitungan di atas, KHL atau daily needs bisa disetarakan dengan 30% dari total anggaran.

Investasi merupakan pengeluaran yang akan kita terima kembali dengan pengembalian yang lebih besar. Bentuknya bisa berupa instrumen keuangan bernama saham, reksadana, emas, modal dalam joint venture (syirkah). Besarnya sekitar 20% dari total anggaran.

Sedangkan Financing adalah usaha kita untuk mendapatkan kepemilikan aset tetap yang nilai ekonomisnya tinggi dengan cara mengangsur. Bentuknya bisa angsuran, bisa juga pemisahan sejumlah harta tertentu secara teratur sampai jumlahnya mencukupi sebagai mahar suatu aset atau agenda keuangan lainnya. Rencanakan saja besarnya 30% dari total anggaran.

Saya tidak mengartikan saving sebagai tabungan. Jangan pernah menyebut simpanan harta dalam bentuk uang kartal dengan kata tabungan. Fungsi saving adalah sebagai cadangan likuiditas. Ia bisa digunakan jika sewaktu-waktu ada pengeluaran yang belum ada jatah atau pos-nya. Sisihkan 10%. Jika pada tahun anggaran itu dana cadangan tidak digunakan, sebaiknya masuk ke pos investasi, atau baik pula digeser ke dana transfer sebagai shodaqoh di penghujung tahun.

Dan mungkin boleh ditambahkan dengan kategori Dana Transfer yang fungsinya untuk aktivitas sosial (termasuk shodaqoh 'wajib') dan biasanya keluar dalam bentuk dana tunai. Besarnya tidak menentu, tetapi minimal 10%.

Dengan asumsi total anggaran (belanja) sejumlah ....... sila hitung sendiri dengan patokan KHL yang kira-kira berada pada porsi 30% dari total anggaran. Meski hanya permisalan, tidak elok rasanya melibatkan angka-angka nominal mata uang.

Nah, jika ada pemasukan melebihi total anggaran, pada prinsipnya dimasukkan saja ke kategori Dana Transfer sebagai infaq dan/atau shodaqoh.

Mengapa?

Kita cukupkan hidup di hari ini saja--bulan ini saja. Esok hari kita belum tentu masih hidup. Investasikan saja untuk akhiratmu. #YusufMansyurStyle.

Selamat merencanakan masa depan. Tapi tetaplah hidup di hari ini saja. Berangan-angan membuat hari yang sedang kau jalani terasa singkat.

Salam,

-ΛM-

No comments:

Post a Comment