Saturday, December 6, 2014

Reviu Novel "Api Tauhid" Habiburrahman el Shirazy

Izinkan saya mengupas novel baru Habiburrahaman "Kang Abik" el Shirazy. Novel seharga Rp79.000,- (beberapa minggu lalu) di Gramedia ini langsung masuk radar pembelian ketika saya tahu Penerbit Republika meluncurkannya. Sekarang novel ini sudah masuk laci pribadi, menunggu teman yang ingin meminjam. Biasanya sih saya tawarkan ke mbakyu dulu, tapi mbakyu lagi diklat; sibuk pastinya. Kau mau pinjam?
Cover "Api Tauhid" (sumber: RepublikaPenerbit.com)

Baiklah. Saya ceritakan dulu pendapat saya tentang novel itu.


Saya merasa heran yang terbungkus kekaguman, bahwa ada cendekiawan-novelis yang mempunyai pembaca dari berbagai golongan, kali ini menyajikan keteladanan tokoh dari kalangan sufi. Di balik keheranan ini saya bersyukur, ada penulis muslim populer yang menjadi jalan tengah bagi kaum ekstrimis radikal dan ekstrimis liberal demi menjelaskan bagaimana seungguhnya dan/atau seharusnya ajaran sufi itu.

Dari cerita yang disajikan penulis tentang sufi dengan tokoh Badiuzzaman Said Nursi, tentu berbeda rasa, makna, dan dampaknya bagi masyarakat muslim luas terhadap mereka. Bahkan mungkin mengubah penilaian terhadap sufisme dengan sudut pandang yang lebih adil. Membaca novel sejarah salah satu pelaku sufistik ini saya mengambil pelajaran bahwa keadaan tertentu memungkinkan seseorang memilih jalan sufi sebagai kendaraan paling nyaman menuju Tuhan-nya. Bukan lagi tentang lurus atau menyimpang.

Tentang teknik bercerita....

Mohon maaf bila saya harus membandingkan, tapi memang saya lebih suka dengan cara menulis Tasaro GK dalam menyampaikan sejarah dalam novel "Muhammad"-nya.  Dalam novel -yang rencananya akan- trilogi itu, Tasaro menjalankan dua cerita pada satu timeframe yang sama dengan memasukkan tokoh utama yang fiktif pada zaman yang sama di mana tokoh utama dalam fakta sejarah yang ia ceritakan. Tokoh Kashva hidup di jaman yang sama dengan Muhammad saw sehingga pembaca merasakan seolah-olah dua tokoh melakonkan peran masing-masing dengan alamiahnya. Sementara dalam novel "Api Tauhid", Sang Penulis seolah-olah meminjam kepenokohan enam pemuda untuk menceritakan lakon dari tokoh yang sebenarnya ingin penulis sampaikan. Dalam "Api Tauhid", penulis meminta kepada tokoh fiktifnya, yaitu Fahmi, Hamza, Subki, Bilal, Aisyel, dan Emel untuk menceritakan sejarah hidup Badiuzzaman Said Nursi.

Sebagaimana penulis pernah akui pula, bahwa tokoh utama dalam setiap novelnya, dalam hal "Api Tauhid" adalah Fahmi, selalu berkarakter sempurna. Atau mendekati sempurna, dalam arti yang manusiawi. Dan dengan hal inilah penulis sukses membuat iri saya, membuat saya sebagai pembaca ingin meniru sifat dan sikap yang melekat pada tokoh Fahmi.

Dengan bahasa yang lebih bersifat populer daripada sastrawi, saya yakin penulis akan lebih banyak mendapat perhatian dari pembaca khalayak umum, daripada mereka yang sastra addict. Seperti itu juga yang telah berlaku pada novel-novel sebelumnya. Jika diibaratkan kepada karya seni audio-visual, novel ini cenderung mirip kepada drama daripada theatre. Do you get me?

Sekian dulu, semoga berlanjut. Tapi saya harus nge-post ini dulu ya..

[9 Desember 2014]
Oke. Lanjut ya.. Tentang Jalannya Cerita.

Fahmi tiba-tiba menyendiri dengan cara beri'tikaf di masjid Nabawi dengan satu agenda besar: khatam al Qur'an secara hafalan sebanyak 40 kali dalam satu masa i'tikaf. Ali, teman karibnya sejak di pesantren dulu, merasa heran dengan tekad yang mendekati kemustahilan itu. Sementara Hamza dan Subki, teman kuliah di Madinah, mencium motif lain di balik aktivitas Fahmi yang mereka anggap terlalu menyiksa tubuhnya sendiri.

Dan Kang Abik menceritakan motif itu sebelum Fahmi mengaku kepada para sahabatnya tersebut.

Kegundahan itu bermula ketika Fahmi pulang ke tanah air, dan akhirnya menikah dengan seorang perempuan putri Kyai terpandang di wilayah itu dengan syarat tertentu. Pernikahan tersebut hanyalah sebatas ikatan secara agama, belum dicatatkan secara hukum sipil kenegaraan. Sang Wali Nikah, orang tua pengantin perempuan, mensyaratkan juga bagi kedua mempelai untuk tidak melakukan hubungan suami istri terlebih dahulu sebelum mereka sah secara hukum. Beberapa minggu setelah keberangkatan Fahmi kembali berkuliah di Madinah, keluarga pihak perempuan meminta Fahmi menceraikan istrinya tanpa memberikan keterangan yang jelas musababnya.

Fahmi dihadapkan pada gelombang ujian yang membingungkan, hingga i'tikaf menjadi pelariannya. Di tengah ia beri'tikaf, tubuhnya meminta hak istirahat setelah beberapa hari diforsir. Fahmi jatuh pinsan. Pada akhirnya Fahmi mengakui masalahnya, mengungkapkannya kepada sahabat-sahabat terbaiknya.

Demi berdamai dengan ujiannya, ia menyesutujui ajakan Hamza dan Subki untuk melakukan rihlah ke Turki sembari mentadabburi kisah hidup seorang tokoh yang sama-sama mereka teladani: Badiuzzaman Said Nursi. Dari sinilah Kang Abik mulai memberikan ruang yang besar di novelnya untuk menjalankan sejarah hidup Sang Sufi, dengan diceritakan lisan oleh para tokohnya yang mengikuti tour kali itu: Hamza, Fahmi, Subki, Bilal, Aisyel, dan Emel.

Di sela-sela cerita tentang Said Nursi, lakon Fahmi tetap berjalan dengan memasukkan cerita hidup yang melekat pada Aysel. Wanita cantik keturunan Turki yang besar di London ini membawa ujian tambahan bagi Fahmi. Kepulangan Aysel ke Turki sebenarnya adalah pelariannya dari kejaran kekasihnya. Si kekasih Aisyel yang bule Spanyol itu datang ke Turki bersama kemarahan dan dendam yang turuk menyerempet lakon utama kita. Kini Fahmi juga diuji fisiknya, dilukai secara kejam oleh kekasih Aisyel dan komplotannya. Sebabnya adalah, kekasih Aisyel sempat melihat kedekatan Aisyel dan Fahmi. Dan memang, Aisyel dengan didikan Inggris yang melatih keterbukaan, sempat secara terang-terangan menyatakan kesediaannya menjadi istri Fahmi dan berjanji akan menjadi pendamping yang terbaik baginya, belajar menjadi wanita muslimah-sholihah dan meninggalkan masa lalu yang kelam.

Skip. Skip. Skip. Beberapa bulan berlalu, kisah Badiuzzaman (Keajaiban Zaman) Said Nursi bersamaan dengan kembali terbaringnya Fahmi di rumah sakit. Menjelang kesembuhannya, datanglah istrinya yang sesungguhnya, yang semula meminta cerai, ke Turki bersama sahabat kecilnya, Ali. Dan akhirnya Fahmi benar-benar memulai kehidupan rumah tangganya dengan Sang Istri, Firdaus Nuzula.

Apa yang membuat Nuzula akhirnya kembali kepada Fahmi? Saya kira pada bagian inilah penulis menunjukkan kebijaksanaannya demi menolong Fahmi di puncak ujiannya. Cerita selengkapnya kamu harus mencarinya sendiri di buku itu. Monggo kalau mau pinjam.

Salam,

-ΛM-

No comments:

Post a Comment