Sunday, January 4, 2015

Periode

Istiqlal yang Istiqamah Memilih Sunyi dalam Keramaian (dokumen pribadi)
Tak bisa dipungkiri, pada saat Jakarta menandai pemasangan kalender barunya, saya berada di tepi keramaian, tapi dapat menjangkaunya dengan sekali pandang. Meski Jakarta memang pusat keramaian, titik kumpul keramaian ada di Monas dan jalan-jalan protokol di antara Monas dan Bundarahan HI. Di sekitar itu hanyalah riak-riak. Saya masih di kantor ketika itu, baru menemani bos menyelesaikan dokumen penting akhir tahun: laporan realisasi APBNP 2014.

Bagaimanapun, Masjid Istiqlal harus ada di Jakarta. Ia harus ada di ibukota, atau ibukota harus punya tempat-tempat semacam Istiqlal. Sebagai penyelaras. Sebagai pewarna. Atau bahkan sebagai pemurni? 

Paham, atau mikir?

Tugu Api (dokumen pribadi)
Apapun sisi yang kau pijaki tentang pergantian tahun, sisi ektremis kaku yang menentang habis perayaan tahun baru atau sisi liberalis yang menumpang arus kebebasan berekspresi, ketahuilah bahwa pergantian kalender adalah persoalan kesepakatan yang telah berlaku global sebagai bahasa wajah dari waktu. Sejatinya waktu tak ada yang berganti, sebab ia adalah pembaharuan yang berkelanjutan dalam penggalan-penggalan. Ia adalah pita yang terulur dari awal yang tak terlihat sampai akhir yang tak tertebak. Nikmatilah. Semuanya mengalir dan berputar.

Penggalan-penggalan itu adalah bahasa untuk menyebutkan bilangan dengan ukuran yang sama-sama dimengerti semua manusia. Mengapa kita harus memenggal tahun sebanyak 365 hari? Karena Altair berjumpa kembali dengan Matahari dalam posisi yang sama di kubah langit membutuhkan 365,25 hari. Tentu kita tidak bisa melihatnya, karena cahaya Altair selalu kalah oleh Matahari.

Atau, mengapa tidak memakai penggalan 354/355 hari?

Ok. Jumlah 354 atau 355 hari itu sebenarnya adalah penjumlahan dari dua belas bulan. Jumlah bulan sebanyak 12 (dalam kalender Hijriyah) itu murni berasal dari firman Allah dalam al-Quran. Saya belum tahu jika itu memang bersesuaian dengan peristiwa fisika di alam semesta. Satuan terkecil dari waktu yang bersesuaian dengan peristiwa fisika adalah hari. Lalu, siapa yang awal mula memenggal satuan hari menjadi jam dan dengan semena-mena memutuskan ada 24 jam dalam sehari? Mengapa tidak sejumlah 36 jam, atau 50 jam, atau 100 jam saja?

Mikir....

Satuan bulan yang sesuai dengan peristiwa alam adalah satuan yang digunakan dalam Islam (lunar calendar), yakni waktu yang dibutuhkan bulan untuk tampak sama seperti sedia kala setelah berputar terhadap bumi dan terhadap dirinya sendiri jika dilihat oleh penduduk Bumi.
Hot Sibling :-) Jalan-jalan Refreshing Tahun Baru ke Gramedia (dokumen mbakyu)
Maulid Akbar MR (dokumen pribadi)
Jadi, apa yang telah kau lakukan untuk mengisi umurmu, wahai Abdullah? Bukankah umur manusia adalah sama, yakni periode yang ditandai dengan datangnya seseorang ke dunia sampai dengan ia pergi dari dunia ini?

Salam,

-ΛM-

No comments:

Post a Comment