Thursday, February 5, 2015

Priayi

Inilah definisi kata priayi menurut KBBI (versi online)
priayi /pri·a·yi/ Jw n orang yg termasuk lapisan masyarakat yg kedudukannya dianggap terhormat, msl golongan pegawai negeri;
Cium Bendera saat Diklat Prajabatan (courtesy by PPSDM BPPK Kemenkeu)
Menyedihkan ya? Pemisalannya itu lho.... Meski sebuah makna kata dapat bergeser, nyatanya KBBI masih mengangkat 'pegawai negeri' sebagai suatu kehormatan di dalam kelompok 'priayi'. Sepertinya, rata-rata pendapat memang masihlah demikian: pegawai negeri berkedudukan terhormat.

Kok bisa begitu ya?


Hukum jual beli berlaku. Ada penawaran; ada permintaan. Permintaan bertambah atas penawaran yang terbatas; harga terangkat. Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa peminat sebagai pegawai negeri tetap tinggi, apapun alasannya. Sebagai suatu lapangan kerja, apalagi. Kadang, ada beberapa kalangan yang bisa jadi tidak minat menjadi pegawai negeri, tetapi lapangan kerja semakin sempit saja berbanding dengan pengais rumputnya. Ada pula yang memang status kepriayian sebagai pegawai negeri menjadi 'target' hidupnya karena merasa bakat itu telah disemaikan secara genetik.

Tak terbayangkan selagi kecil kalau gedhe nanti punya bunyi aparatur sipil di kolom profesi KTP. Bisa sampai di sini mungkin karena begini: kemampuan akademik yang agak lumayan, tapi bingung mau jadi apa, maka terceburlah di lautan birokrasi.

Saya pernah baca di sebuah blog yang kemungkinan besar ditulis alumni dari kampus yang sama dengan saya, tentang STAN dan STOVIA. Favorit, menjaring pelajar lumayan cerdas tapi agak kere, ada uang saku bulanan, dan kontrak kerja setelahnya (ikatan dinas) adalah kesamaan dua institusi pendidikan beda zaman beda konsentrasi keilmuan itu. Ujungnya mirip: lulusan STOVIA menjadi dokter gubermen (pemerintah Hindia Belanda) sedangkan lulusan STAN menjadi aparatur sipil di bidang Keuangan (mostly). Intinya sih, menjadi abdi negara (sebutlah penyokong legitimasi kekuasaan dengan umpan kenyamanan).

Generasi 90's, menurut saya, adalah generasi yang keren. Mereka adalah keturunan tradisional dengan pendidikan modern. Generasi 80's belum terlalu banyak menyusu pada era global sedangkan generasi 2000 dan setelahnya banyak tak mengenal suasana klasik tradisional, bahkan bisa dikatakan sebagai produk digital. Generasi 80's dan sebelumnya, menjadi PNS adalah cita-cita kebanyakan pelajar . Maaf bukan menggeneralisasi, cuma bilang 'kebanyakan' (sedangkan bagi kaum nonpelajar, menjadi PNS hanya angan-angan belaka). Generasi 90's terbagi; ada yang antipati terhadap PNS, ada yang masih mengikuti jejak orang tua, ada pula yang menjadi PNS itu sudah termasuk naik 'kasta'. Mereka ini kelahiran 90 sampe dengan 94 (kelahiran 95 dan seterusnya belum ada, atau jarang, tapi tetap akan ada meski berkurang jumlahnya). Kalau masih ada kelahiran 2010's yang minat jadi PNS, perlu dilihat dulu orang tuanya dari generasi berapa: 90's, 80's, atau sebelumnya, dan mereka tak memberikan pelajaran yang cukup berharga bagi anak-anaknya tentang status aparatur sipilnya.

Saya mencoba menunjukkan diri sebagai orang yang netral, tidak hormat juga tidak memandang sebelah mata profesi aparatur sipil negeri. Tidak bisa melihat orang sebagai individu dengan profesinya. Bahkan dalam pikiran, saya mencoba untuk tidak PNS minded, tapi selalu gagal dalam tindakan. Ternyata, kelihatan juga dari perilaku bahwa saya seorang aparatur sipil. Toh nyata adanya profesi saya tertulis demikian.

Memang bagaimana kecenderungan perilaku para aparatur sipil? Antara lain akan saya tulis di post "Middle Income Trap".

Yang jelas, tetaplah belajar. Teruslah berpesiar. Kembalilah berlayar.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment