Tuesday, April 14, 2015

Pulau Seribu Masjid

Kalau bukan karena 'tugas negara', tidak perlulah sebenarnya mengusahakan berkunjung ke Pulau -yang katanya- Seribu Masjid itu. Sebab, kita hanya dianjurkan untuk melakukan perjalanan ke tiga masjid saja (tidak perlu seribu), yaitu: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid Al Aqsha.
"Janganlah mengadakan ziarah kecuali ke tiga masjid, yakni Masjidil Haram, masjid saya ini, dan Masjidil Aqsha.”--HR. Bukhari dan Muslim.
Hari yang Cerah (foto diambil oleh: elmabruri)

Bulan Madu?
Katanya sih, tempat ini menjadi destinasi yang ramai dikunjungi para pengantin baru. Untung saya ke sini sebelum menikah. Jadilah saya tahu, tidak seistimewa itu jika kau menghabiskan masa bulan madu ke sini. Ini pendapat pribadi, tentu saja, yang saya sendiri masih jomblo single. Kalaupun mau berbulan madu, di pesisir barat Jawa yang tak terlalu jauh dari Jakarta masih representatif dengan biaya yang tak fantastis. Intinya sih, ada tempat lain berbulan madu yang value for money-nya lebih baik.

Sunset at Senggigi
Keindahan mungkin adalah sesuatu yang orang cari ketika menuju sebuah tempat dalam rangka wisata. Namanya juga refreshing, sekembalinya dari perjalanan, kita menjadi segar lagi untuk menjalani rutinitas. Memandangi keindahan itu perlu, antara lain dengannya ketenangan jiwa diakibatkannya. Tapi, apa beda pengaruh dalam diri kita antara yang indah dan yang lebih indah? Relatif.

Pastilah ada banyak pantai yang lebih indah, entah di mana yang paling indah, bahkan di Kebumen pun bolehlah disebut indah, tapi inilah Pantai Senggigi hasil jepretan sendiri.

Senja di Senggigi (self photography)
Gili yang Tiga
Lombok tak seistimewa itu kalau tidak ada Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno. Ketiganya adalah pulau-pulau kecil di barat laut Lombok. Keberadaannya laksana Kepulauan Seribu bagi Jakarta, Kepulauan Karimun bagi Jawa (Jepara), Phobos dan Deimos bagi Mars, tapi tak seperti kamu bagi aku. Kan tidak perlu ada tiga-kamu untuk mendampingi satu-aku #apasih.
Matahari Saat Vernal Equinox dan Gunung Rinjani, dari Dermaga Trawangan
(photo by: elmabruri)
Vernal Equinox
Ohya, perlu ada catatan tambahan soal vernal equinox, yaitu saat matahari melintas di atas khatulistiwa Bumi. Bagi masyarakt tropis, khususnya di sekitar khatulistiwa, ini adalah tanda panjang siang sama dengan panjang malamnya. Sedangkan bagi penduduk belahan Bumi utara, ini adalah awal dari musim semi yang mereka nantikan. Vernal Equinox 2015 terjadi pada tanggal 20 Maret 2015 pukul 22.45 Universal Time atau tanggal 21 Maret 06.45 WITA (UT+8) {CMIIW}. Nah, foto di atas diambil sekitar pukul 7 waktu setempat tanggal 21 Maret 2015.

Snorkeling
Tujuan utama kami waktu itu adalah Gili Trawangan. Dari sana kami ikut snorkeling yang dalam rutenya akan menyelami beberapa tempat di lautan dekat dua gili yang lain, termasuk istirahat makan siang di Gili Air. Tersebab kami memang sebenarnya bukan merencanakan liburan, snorkeling di hari Jumat itu sangat tidak nyaman. Bisa saja saya berlindung dari status safari saya. Tapi, alhamdulillah sempat sholat Jumat di -perkiraanku- satu-satunya masjid di pulau Air itu sementara peserta snorkeling yang lain istiraht makan siang.
Mandi Jumat di Selat Lombok (dokumen teman)
BTW, Mana Masjidnya yang Seribu Itu?
Saya sendiri juga meragukan julukan seribu masjid itu -mohon maaf. Mungkin slogan "Pulau Seribu Masjid" adalah klaim sepihak yang tertuang dalam doa dan harapan. Yeah, ada kalanya memang doa belum terkabul, atau dikabulkan sebagian, atau dikabulkan dalam rupa yang lain. Tapi semangat menuju slogan itu perlu diapresiasi, termasuk motto Kota Mataram: Maju, Religius, dan Berbudaya. Meski memang, Lombok bukan hanya Mataram.

Islamic Center Mataram masih dalam tahap pembangunan, mungkin perampungan. Masjid-masjid lain rasanya pun tak menonjol. Biasa saja, baik dari segi jumlah maupun model. Atau memang saya tidak secara khusus menyengaja untuk mencari dan mengunjungi masjid-masjid di Lombok. Tapi, masjid terdekat dengan tempat kami menginap pun tergolong jauh, bila dibanding dengan Jakarta.

Dengan demikian, justifikasi logika saya harus menentang kesan religius yang coba ditampilkan oleh Lombok. Malah, kesan sebaliknya datang pada benak saya. Terutama setelah berkunjung ke Gili Trawangan, kesan religius hilang tersapu ombak. Tergantikan oleh pemandangan 'biru' memanah mata. Kebetulan hari itu Bali sedang Nyepi. Turis asing menepi ke gili. Tiga pulau kecil itu sudah lebih parah dari Bali. Astaghfirullah.... nganu itu lho.....anu... pokoknya nganu lah.

Ah sudahlah. Lombok tetap berjuluk demikian. Monggo dilihat saja parade foto yang ada berikut ini.

Salam,
-ΛM-
Langit dan Bumi Bersepakat untuk Membiru, Trawangan
(by elmabruri via ASUS Zenfone)
Dari Dermaga Trawangann (by Elmabruri via ASUS Zenfone)
Foto-foto berikut diambil oleh @elmabruri dengan Canon Powershot

No comments:

Post a Comment