Tuesday, May 26, 2015

Merantau

“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. an-Nisaa: 100)

Sampai saat ini, saya masih meyakini bahwa kelahiran kita di suatu tempat di Bumi ini adalah clue dari Sang Pencipta di mana Dia menugaskan kita menjadi khalifah. Mungkin memang tidak merata sebaran penduduk berdasarkan kelahiran, maka perlu yang namanya migrasi. Bisa juga disebut merantau.

Yeah, definisi merantau kini direbut oleh orang-orang yang pergi keluar dari kampung halamannya untuk memperbaiki nasib dirinya. Padahal, seharusnya orang yang meninggalkan kampung halamannya untuk memajukan suatu kaum juga disebut perantau.

Sedihnya, saya harus meninggalkan Kebumen yang Bersih, Indah, Aman, dan Nyaman (slogan Kebumen Beriman) ke Jakarta karena panggilan tugas negara nan mulia (baca: sesuap nasi). Bagaimanapun, menjadi aparatur sipil negeri itu tak semulia nama kerennya: abdi negara. Mereka (kami) yang benar -benar ingin mengabdi pada Indonesia tidak akan jadi PNS. Jujur saja kalau sebenarnya kita juga menumpang hidup pada negara walau hanya setengahnya.

Imam Bukhari meninggalkan ibu dan kampung halamannya demi mengikuti langkah Nabinya, memungut rekaman perkataan dan perbuatan Nabi dari satu guru ke guru lainnya; dari satu negeri ke negeri lainnya. Lah saya? Kalau saya penempatan di Pajak (atau instansi kemenkeu vertikal lainnya), bisa jadi saya berpindah-pindah dari satu pulau ke pulau lainnya, dari bos satu ke bos lainnya, demi sesuap nasi (dan sebongkah batu Bacan, kali).

Tentu saja, sambil berpindah-pindah mengikuti SK (surat keputusan) Mutasi, kita juga bisa menebar kebaikan ke sana ke mari. Iya, sambilan kan? Utamanya tetep: ikut arus organisasi sebab kita telah terikat kontrak menjadi pekerjanya, diupah, maka harus patuh entah dibawa ke mana.

Maksud saya gini lho. Kalau memang rizki itu melekat pada diri kita, bukan pada tempat, mengapa harus pergi keluar kampung halaman? Ingat, Allah memberi petunjuk awal di mana kita harus menjadi khalifah-Nya, melalui tempat di mana kita dilahirkan. Memang, tidak harus di kampung sendiri, tapi siapa lagi kalau bukan kita?

Di hadapan cermin saya bertanya: mengapa Jakarta?

Saya berjanji akan pulang ke mana Ibuku sekarang tinggal: Kebumen. Atau mungkin akan memilih domisili yang strategis di antara masa depan dan masa lalu (baca: dunia modern dan titik awal), yaitu Jogjakarta. Yang jelas bukan Jakarta, karena ia terlampau jauh dari titik awal, meski hanya berjarak 7 jam perjalanan kereta.

Eh, btw, mungkin kamu ada di Jakarta, atau akan ke Jakarta. Ini memang tempat mudah untuk bertemu orang dari segala arah. Setelah itu, barulah kita sepakati lewat jalan mana untuk menuju tujuan kita yang sama.

Jakarta, 23 Mei

No comments:

Post a Comment