Tuesday, June 16, 2015

Gran Fondo 130

Setiap bulannya, Strava -aplikasi Running and Cycling GPS Tracker- selalu menawarkan tantangan bagi anggotanya untuk mengikuti gran fondo. Bulan Mei, Strava mengadakan challenge kateogri gran fondo sejauh 100 km (namanya Gran Fondo 100). Bulan Juni ini, challenge kategori gran fondo sejauh 115 km dalam sekali persepedaan (sekali rekam aktivitas di aplikasi). Ohya, challenge yang ditawarkan Strava tidak hanya gran fondo, ada juga Everesting, yaitu climbing (dengan sepeda tentu saja) dengan elevation gain mencapai setinggi puncak Everest (di atas 8000 meter). Tapi, yang mungkin bisa saya ikuti adalah gran fondo, karena bisa di jalanan datar saja.
Rute dan Ketinggian



Kebayang gak tuh mendaki dengan sepeda sampai setinggi Everest? Pada praktiknya bisa dilakukan pengulangan. Misalnya, mendaki Puncak Pass Bogor yang ketinggiannya hanya sekitar 1200 mdpl, bisa diulang 10 kali. Mendaki Puncak Pass dari Gadog pastinya tidak dimulai dari 0 mdpl, biasanya sih diawali di jalur Tajur.

Singkat cerita, untuk memenuhi tantangan Strava gran fondo Juni, saya mengiyakan ajakan teman untuk bersepeda ke KM 0 Sentul. Penasaran juga seperti apa tanjakan di sana. Sudah lama tidak berlatih mendaki menanjak. Terakhir bersepeda di tanjakan itu tahun lalu, bulan September, sebagaimana pernah saya tulis di blogpost ini.

Secara jujur, saya bukan tipe pesepeda-pendaki, kalah jauh dibanding tandem saya kemarin yang sudah bolak-balik ke KM 0 dari Jakarta. Aku mah apa atuh. Tapi tidak kapok juga mencoba mendaki. Walaupun ketika tak kuat lagi menanjak, muncul pertanyaan retoris: mengapa kamu berlelah-lelah begini, bukannya lebih enak bersantai baca buku di rumah kos sambil menyeruput secangkir teh?
Lebih Tinggi dari Bukit Pelangi

KM 0 Sentul hanya berada di ketinggian sekitar 600 mdpl (tapi elevation gain bisa 800 m). Lalu saya heran mengapa dulu berani mencoba tanjakan Dieng Plateau yang ketinggiannya mencapai 1800 mdpl. (catatan perjalanan ke Dieng ada di post ini).

Bagi sebagian orang, mungkin berlebihan/terlalu memaksa bersepeda seratusan kilometer dalam sehari. Demen kesel thok! Saya sendiri kadang merasa demikian. Meski saya bukan sekali dua kali bersepeda jarak jauh, sampai menginap di masjid segala, dirasa-rasa kayak kurang kerjaan aja ya bersepeda jauh-jauh. Kalau memang hanya untuk olahraga, 100 kilometer dalam seminggu sudah cukup bagus untuk menjaga kebugaran.

Omong-omong, saya sedang mencari cara bagaimana bisa sepeda balap boleh dibawa di kereta jarak jauh, atau okelah kalau harus bayar bagasi. Sementara ini sih petugas peron masih kekeuh tidak mengizinkan sepeda nonlipat masuk ke gerbong penumpang. Tapi anehnya mereka belum menyediakan gerbong yang difungsikan sebagai bagasi. 'Traveling' sambil bawa sepeda ke mana-mana pun masih jadi bayang-bayang belaka. Malah yang memungkinkan adalah sepeda dibawa naik pesawat tanpa membayar biaya bagasi, karena berat (massa) sepeda saya kurang dari 20 kg.

Rekam jejak perjalanan ke KM 0 ada di sini. Sayangnya, aplikasi strava saya hanya merekam 90 km kerana hape kehabisan baterai. Harusnya bisa mencapai Gran Fondo 130. Dipikir-pikir, gran fondo sebulan sekali perlu dirutinkan untuk refreshing sekaligus olahraga. Itung-itung, sebagai anak muda yang belum pernah mendaki gunung di atas 2500 mdpl, bolehlah saya memasuki kelompok para pesepeda mini touring sampai 100.000 meter mendatar dan 1000 meter menanjak.

Tidak setiap anak muda harus pernah naik gunung. Setiap orang punya spesialisasi sendiri. Apalagi sekarang naik gunung sambil berfoto memegang kertas bertulisan dan meninggalkan sampah di puncak sudah mainstream.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment