Thursday, June 4, 2015

Urban

Merantau: mengejar masa depan, atau meninggalkan masa lalu?
Ke Jakarta: menjemput impian atau menghapus kenangan?
Banyak orang bermaksud mengubah nasibnya dengan bertandang ke Jakarta. Ada yang berambisi menaklukannya, ada yang sekedar menumpang hidup, ada pula yang sengaja membuang diri ke dalam keramaian. Dengan sendirinya Jakarta berubah wajah menjadi sesuatu yang lain.

Orang kampung berduyun-duyun ke kota Metropolitan, terhipnotis oleh cerita tentang Monas yang mashur. Tentu saja melihat Tugu setinggi 132 meter itu sudah cukup memuaskan. Padahal wajah metropolitan sebenarnya lebih tepat digambarkan oleh Kuningan City, SCBD, Central Park, Taman Anggrek, dan kemewahan lainnya. Tapi memang tidak semua Jakarta bersolek metropolis.

Sebagian Jakarta bahkan tampil tanpa make up. Kawasan semacam Tambora merepresentasikan bahwa Indonesia adalah negara Asia Tenggara (south-east). Negara-negara dunia ketiga ada di belahan selatan, sedang negara-negara pengikut (bisa saja dibilang 'terbelakang') ada di belahan timur (atau yang dianggap timur).

Kaum urban datang ke Jakarta tidak lantas menjadikannya berpola pikir kekinian. Gaya hidup mudah  saja berubah mengikuti tren. Televisi lebih mudah dijadikan referensi daripada studi literasi. Sikap ndeso pun dibawa-bawa dengan bangga.

Atau memang begini macamnya karakter Indonesia?

Mampu membeli mobil, tapi tak mau menyediakan garasi; parkir di jalanan umum. Bersepeda motor berebut lahan dengan pejalan kaki, yang telah terlebih dahulu dikapling pedagang kaki lima. Mobil yang hanya ditumpangi dua orang, yang ternyata orang kedua adalah sopir, kekeuh dikendarai pada jam-jam macet.

Dipikir-pikir, hidup di Jakarta itu menyesakkan, selain karena memang sesak oleh kepadatan penduduknya tentu saja. Untungnya sih, saya jarang memikirkannya. Kecuali kalau lagi kangen ketenangan di kota impian sih, juga rindu kampung halaman, juga teringat seseorang yang jauh di sana. Jauh...... karena tak tau di mana, bahkan tak tau siapa. Hahahaha..... (loe galau ya? ckckckc).

Ya sudahlah. Nanti kita obrolin lagi di mana kita akan membangun peradaban kecil di lautan kehidupan. Mungkin di antara Jakarta dan Kebumen. Tapi yang namanya di antara Kebumen-Jakarta itu tidak harus secara spasial berada di peta antara keduanya, sebab kalau mau ke Jakarta lewat udara kan harus ke arah timur dulu. Ya, Jogjakarta, mungkin?
Salam, dari Jakarta.
AM

1 comment: