Wednesday, July 1, 2015

Reviu Novel Ayah - Andrea Hirata

Judul : Ayah
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit    : Bentang Pustaka
Cetakan      : Pertama, Mei 2015
Tebal : 432 halaman
Harga : Rp74.000
Mau Pinjem?
Bukan karena nama besarnya, tapi kepiawaiannya menata diksi yang tak terdugalah, meski hiperbolis dan tak logis, nama Andrea Hirata menjadi besar. Terbukti dengan pencetakan nama penulis dengan font lebih besar dari judul novelnya. Mau tidak mau, sebelum membaca isinya, kita boleh menduga kalau penilaian pembaca setelah menyelesaikan novel ini nanti, tidak akan seistimewa nama besarnya.


Dugaan itu tidak sebagiannya salah. Novel ini masih tetap masuk jajaran bestseller meski tak sebaik Edensor atau Cinta di Dalam Gelas. Selalu lihai menyindir keadaan (pemerintah) dan tetap menertawakan kegetiran hidup sebagai lelucon adalah kekhasan novel-novelnya. Hanya saja, di novel ini Andrea tidak menonjolkan keakuan dirinya. Bahkan ia tak terlibat dalam cerita. Sebaliknya, demi kegemarannya membuat cerita cinta yang tragis, dia mengorbankan tokoh utama bernama Sabari sebagai sosok ayah teladan yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh Marlena, ibu dari anak yang sangat ia sayangi seperti anak kandungnya sendiri.

Tak mendapat cinta Marlena, Sabari tak begitu kecewa. Namun, ketika sang anak, Zorro, pergi bersama perceraian mereka, Sabari menderita keputusasaan kronis bertahun-tahun. Hingga ketika Zorro kembali, tanpa ibunya ikut serta, Sabari menyembuhkan diri dari kegilaan.

Alih-alih bereuforia dengan pencapaian-pencapaian kesuksesan, novel ini menjadi menarik oleh sajian cerita orang-orang yang terombang-ambing oleh ombak kehidupan dalam balutan nuansa klasik tentang puisi, radio, dan sahabat pena.

Novel ini tetap diperkaya dengan bumbu informasi yang mencerminkan keluasan wawasan penulisnya. Dengan modal 74.000 rupiah, buku ini bertahan lebih lama dari dua cangkir cappuccino di kedai kopi. Novel setebal 432 halaman ini bisa dihabiskan dalam beberapa jam saja, seandainya ia bisa membuatmu ingin selalu membacanya tanpa henti. Meski terbagi dalam bab-bab pendek yang memungkinkan pembaca sering berhenti, inspirasi yang kita dapatkan bertahan lebih lama daripada durasi film yang dapat kita beli dengan nominal rupiah yang sama. Worth it.
Pre Order dapet TTD Penulis
Meskipun nuansa Melayu yang religiusitasnya cenderung kepada Islam, Andrea menggambarkan cerita tanpa meruncing ke satu kepercayaan. Nilai moral yang dikandungnya lebih luas. Tidak menampakkan religiusitas secara konkret, namun nilai-nilainya dapat diaplikasikan untuk religi sesuai dengan kondisi pembaca.

Novel ini bisa dibaca oleh berbagai generasi dan akan menimbulkan kesan berbeda tergantung umur: ada yang tiba-tiba berharap perjumpaan kembali dengan ayahnya, ada yang ingin segera memiliki anak, ada yang ingin mengajari ayahnya upload foto di instagram, ada pula yang gamang menjadi ayah. Mana yang akan menjadi kesanmu terhadap novel ini? Temukan sendiri jawabanmu dengan membacanya.

Boleh pinjem, kalau kau mau.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment