Thursday, August 27, 2015

Tentang Novel Surga yang Tak Dirindukan

... dari sudut mata lelaki yang bahkan belum menjemput satu jodohnya.

Mau dimulai dari mana pengakuan-pengakuan ini?

Asma Nadia, melalui Arini, mengungkapkan kekhawatirannya sebagai istri akan kemungkinan keretakan rumah tangga karena kehadiran pihak ketiga, keempat, dan kelima yang tak diharapkan. Sama juga, melalui Pras suami Arini, penulis berharap laki-laki setuju dengan tokoh utama bahwa istri cukuplah satu.
Add caption


Kekhawatiran ini memang bukannya tidak beralasan. Tingginya angka perceraian yang diajukan oleh pihak perempuan mempunyai korelasi erat dengan kekhawatiran itu. Mereka khawatir suami berpaling, tanpa meninggalkannya. Lalu, bagi mereka, lebih baik sendiri daripada dimadu. Di antara keumuman kasus yang terlihat, laki-laki lebih mudah meninggalkan keluarganya daripada perempuan. Sekalipun saya sendiri laki-laki, saya harus jujur dengan pernyataan barusan.

Baiklah, saya setuju dengan pernyataan-pernyataan Asma Nadia dalam novel tersebut berikut ini.

Halaman 268:
".... Pelaku poligami tidak pula menjadi lebih mulia di mata Allah, dibanding para lelaki yang memutuskan cukup dengan satu istri dan setia padanya."

Sesungguhnya Asma Nadia tidak menentang poligami. Namun, dia kekeuh dengan syarat 'adil' yang diajukan. Dan Asma Nadia sendiri bukan perempuan yang akan dengan mudah memberikan penilaian 'adil'. Dia juga berpendapat, melalui tokoh-tokohnya, bahwa ada motif lain di balik seorang laki-laki (atau banyak laki-laki) meniatkan poligami. Motif itu antara lain adalah hasrat seksual. (maaf ya).

Tentu persoalan hasrat itu saya pun mengakui. Dengan melihat keumuman yang ada, jarang lelaki menikah yang kedua kalinya dalam rangka membantu janda tua yang telah lama kehilangan nakhoda hidupnya.

Kalau yang ini agak aneh. Halaman 284:
"Seperti lelaki lain, Pras akhirnya memang kehilangan diri dan tahu-tahu sudah mengulang kesalahan yang sama pada waktu-waktu lain. Kesempatan memang terbuka, sebab tidak ada siapa pun di rumah baru Mei Rose. Hanya dia dan si kecil yang lebih sering lelap di tahun pertama."

Apa maksudnya ya? Lanjut dulu paragraf berikutnya:
"Kesalahan yang membuat Pras merasa dirinya jatuh pada jurang kehinaan. Sesudahnya lelaki itu merasa tidak memiliki pilihan. Ia harus meluruskan kekeliruan yang terjadi hingga menjadi sah dan tidak salah, terutama di mata Tuhan."

Saya tidak tahu level 'jurang kehinaan' yang dimaksud Asma. Apakah itu sesuatu yang bahkan di novelnya pun tak pantas disandang oleh tokoh utamanya, ya? Begitu juga dengan 'tahu-tahu sudah mengulang kesalahan yang sama pada waktu-waktu lain'. Tapi akhirnya saya kecewa dengan penegasan kalimat ini: "Kesempatan memang terbuka, sebab tidak ada siapa pun di rumah baru Mei Rose." Ya, Pras memang bukan tokoh yang tepat bagi Asma untuk mempertahankan pendapatnya soal poligami. Akhirnya, kita harus realistis bahwa laki-laki memang begitu. Ia bisa terjungkal ke jurang kehinaan bahkan ketika di sampingnya telah ada kesejukan.

Ternyata Pras tak sehebat itu. Ia berpoligami bukan karena telah mencapai level 'adil'. Boro-boro. Ia justru kebablasan. Dan saya berlindung kepada Allah dari godaan semacam itu. Karena aku lelaki, sebagaimana Pras, dan setiap pria yang memiliki mata.

Salam,
-ΛM-

2 comments: