Friday, October 23, 2015

25 Purnama

Apakah ini sebuah prestasi, bisa 'bertahan' hidup di Jakarta sudah selama 2 tahun? Pilihan kata 'bertahan' kok sepertinya bernuansa sendu. Tapi kata 'berjuang' yang lebih heroik malah tidak begitu melambangkan.

Bertahan?
Apa-apaan ini? (dokumen pribadi)



Dua tahun berlalu, tanpamu, tidak terasa. Bukan tidak terasa sih. Sebab yang namanya 'berlalu' ini bukan seperti kereta yang dapat kau tumpangi beberapa waktu, kemudian turun dan tertinggal. Karena 'tahun' memanglah satuan waktu. Ia menjadi pertanda hitungan masa, yang sesungguhnya adalah perginya kesempatan.

25 Purnama
Bulan telah menampilkan wajah purnamanya sebanyak 25 kali ketika saya berada di bawah Langit Batavia, terhitung mulai beberapa hari sebelum lebaran iduladha 1434H sampai dengan saat tulisan ini diorbitkan. Dan benar juga witing trisno jalaran soko kulino. Sebagai negasi dari premis tersebut, 2 tahun tidak berjumpa dengan sekawanan Summer Triangle, the Seven Sisters, Triangulum, Mintaka-Alnilam-Alnitak, serta para tokoh perlangitan yang --mohon maaf-- tidak dapat saya sebutkan satu per satu, membuat 'cinta' ini meredup. halah. Terbiasa tanpa cinta menghabiskan malam di bawah atap kantor maupun atap kontrakan.

Kapan lagi kita duduk beralaskan rumput menengadah wajah ke kitab yang terbentang? (lebay kamu)

Cie 'Aku-Kamu'-an
Jakarta banyak berubah tapi saya tetap menggunakan aku-kamu dalam obrolan nonformal, tidak terpengaruh budaya elo-gue. Sebab elo-gue lebih cocok untuk anak gaul dalam percakapan sepantaran. Kehidupan yang mayoritas di kantor, meskipun bukan untuk urusan kedinasan, lebih banyak menggunakan sapaan aku-kamu, atau malah dengan bahasa Jawa. Yah, ketahuan deh ga memperluas jaringan...

Ini sesungguhnya draft ditulis telah lama, dan rasanya belum selesai. Daripada nunggu selesai baru di-publish, dan ga selese-selese, mending ditayangin apa adanya saja.

No comments:

Post a Comment