Friday, October 23, 2015

Gunung atau Pantai?

Kau suka yang mana: gunung atau pantai?
Gunung Rinjani Dilihat dari Gili Trawangan Saat Vernal Equinox 2015 (dok. pribadi)
Tentu saja saya tidak setuju bahwa setiap anak muda harus pernah mendaki gunung. Hari-hari ini ada klaim sepihak dari sebagian halayak yang mengaku suka naik gunung, di antaranya adalah anggota pecinta alam -meski belum tentu peduli lingkungan-, yang mengeluarkan 'fatwa' bahwa anak muda harus pernah naik gunung. Sebagai anak --semoga masih tergolong-- muda yang belum pernah menjejakkan kaki di daratan setinggi 2.500 mdpl, tak terimalah hati ini akan 'fatwa' tersebut.

Ah, sayang sekali KBBI online mendefinisikan gunung dengan demikian lemah:
gunung/gu·nung/ n bukit yg sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dr 600 m)
Sepertinya tak ada kebanggaan kalau hanya mendaki gunung setinggi 1.000 mdpl ya? Tapi ini bukan tentang ketinggian, bagi saya (ya jelas lah, saya pasti mencari-cari alibi untuk kondisi saya dong). Gunung dan pantai mempunyai filosofi berbeda yang mungkin tidak tepat bila dipertentangkan. Gunung berasosiasi dengan nuansa hening, sakral, anggun, berwibawa, dan kaku. Sementara pantai mewakili suasana glamour, fleksibel, popular, cantik, dan ramai.

Menuju puncak, pendaki harus menapaki jalan terjal. Pelancong hanya perlu menggelinding untuk sampai ke pantai, lalu bersantai. Itulah mengapa Bali menjadi begitu terkenal: karena keindahan pantainya (dulu). Begitu juga dengan Lombok sekarang, dan Raja Ampat serta Halmahera di masa mendatang (mungkin).

Berfoto di gunung dengan keterangan ketinggian puncaknya sambil memegang kertas bertuliskan ajakan naik gunung tampaknya merupakan mainstream kekinian sebagaimana saya merekam aktivitas gran fondo saya di Strava, lalu sama-sama membagikan tautannya di FB.
Entah Gunung Apa; Dilihat dari Cikole, Bandung
(dok. pribadi)
Hmmm.... seharusnya yang diperbandingkan adalah gunung vs laut atau lereng vs pantai, ya? Karena ketika kita berada di bibir pantai, kita hanya menonton ombak. Gelombang di laut dilambangkan sebagai ujian kehidupan sebagaimana jalan terjal laksana tantangan menuju puncak kesuksesan.

Dan di antara deskripsi surga adalah sungai yang mengalirkan susu, taman-taman, pohon yang buah-buahannya menjuntai ke tanah, mata air. Semua ini lebih dekat dengan geografis dari daratan, bukan pantai atau laut, khususnya dataran tinggi (walau bukan gunung). Yah, meskipun surga digambarkan juga dengan elemen laut seperti: hidangan daging hati ikan paus, ini tidak cukup menjadikan laut/pantai sebagai unsur dominan.

Mungkin keindahan semacam itu contohnya Ranu Kumbolo-nya Semeru. Dia bukan berada di puncaknya, tapi pastinya tanggung ya kalau tidak sampai ke puncaknya.

No comments:

Post a Comment