Wednesday, November 25, 2015

Testride Sepeda Lipat: Dahon Broadwalk D8

Perlu diketahui bahwa Dahon Broadwalk D8 ini tidak lagi berspesifikasi bawaan toko; groupset-nya telah di-upgrade menjadi Shimano Tiagra. Namanya sepeda lipat, kita mencobanya harus ada unsur dilipat dan dibawa dengan moda transportasi perjalanan jauh. Dan ternyata....? Begini ceritanya.
Naik Krakatau Pasar Senen-Merak (dok. pribadi)


Telah lama saya ingin mencoba gowes alus sepanjang (atau setengah panjang) pantai barat Jawa. Belum saya temukan cara yang tepat untuk membawa sepeda balap ke sana. Mungkin sih menggunakan kereta api, bisa juga dengan dimasukkan bagasi bus. Tapi saya belum yakin betul, belum ada dorongan keharusan. Eh, alhamdulillah ada teman yang sudi meminjamkan sepeda lipatnya.


Karuan saja, dengan groupset seri Tiagra, sepeda ini nyaman sekali dikayuh. Freehub-nya oke. Ada suara jangkrik ketika kita melakukan freewheel (berjalan tanpa mengayuh), dan itu membuat kita jadi senang berkendara dengannya. Pengoperan berjalan halus dan minim getaran, seakan-akan tak perlu banyak usaha berpindah gerigi. Ohya, meski front derailleur (FD) memakai Tiagra, rear derailleur (RD)-nya memakai SRAM, entah serinya. Dan dengan demikian, saya tidak tahu levelnya jika dihadapkan pada jajaran Shimano.

Terbiasa menggunakan roda 28", rasanya lambat sekali ketika mengayuh sepeda 20". Kecepatan rata-rata tidak tembus 20 km/j. Dua setengah jam bersepeda hanya mampu menggelindingkan roda sejauh 44,xx km. Memang sih, mode persepedaan kali ini bukan speed oriented, tapi something vacation: riding for leisure.

Sepeda lipat sekalipun, saya merasa harus menerima tatapan aneh dari para penumpang kereta. Mungkin karena pada dasarnya khalayak Indonesia ingin tahu urusan orang lain dan tertarik membicarakannya. Tapi entahlah. Dan membawa sepeda lipat di kereta, mungkin juga di bus, tidak sesimpel harapan saya. Repot juga harus membopong benda tak beraturan bermassa di atas 10 kg.

Entahlah, apakah faktor-faktor ekonomi perlu saya pikirkan juga terkait dengan pengadaan sepeda lipat nantinya. Yang jelas, sekalipun harganya masuk pagu, dalam hal merealisasikan belanja yang terpenting adalah argumentasi ketika di akhirat nanti ditanya: untuk apa hartamu. Tentu kita harus mengelaborasi tidak sekedar jawaban 'membeli sepeda lipat'.

Sepeda lipat itu tidak murah. Secara instrinsik, dengah harga yang sama, spesifikasi yang kita dapat dari sepeda balap relatif lebih tinggi daripada sepeda lipat. Jelas, fitur lipat punya harga yang tidak rendah. Semua ini dengan catatan bahwa sepeda yang dibicarakan di sini adalah sepeda 'bermerk' atau yang setara. Ya memang, kalau merk 'China', sepeda lipat bertebaran murah-murah di Pasar Rumput. Tapi kan bukan itu yang dinamakan sepeda dalam pembicaraan para penghobi.

Dengan keadaan sekarang yang telah memiliki sepeda balap, rasanya apapun argumen saya tidak akan bisa rasional untuk pengadaan sepeda lipat. Harus satu saja memiliki sepeda. Pilihan tidak mudah: menjual sepeda balap untuk membeli sepeda lipat dengan mengeluarkan dana tambahan, atau bertahan dengan sepeda balap seadanya sekarang dan belum perlu meng-upgrade apapun (sayang booo', masih harus banyak melakukan percobaan sebelum yakin akan satu pilihan).

Cerita tentang 'tour'-nya sendiri akan saya publish di post selanjutnya.

No comments:

Post a Comment