Thursday, September 1, 2016

Dua Tahun Bike to Work

Sebuah kebahagian tersendiri dapat bersepeda berangkat dan/atau pulang kantor di Jakarta sampai dengan 2 tahun ini.

Bersepeda di Jakarta, rasanya istimewa. Terutama di hari kerja. Sebab, kebanyakan orang menggunakan kendaraan bermotor. Meski minoritas, ini bukan kekalahan, atau keterbelakangan, tentu saja. Puluhan tahun ke depan, mungkin Jakarta akan lebih banyak pesepedanya. Puluhan tahun yang sebenarnya entah. Sebab, sekarang saja, transportasi massal masih belum menjadi pilihan. Urutannya, saya lihat-lihat trennya, suatu kota berevolusi dalam hal transportasi mulai dari ramai orang (berjalan kaki atau bersepeda), mulai dijejali kendaraan pribadi bermotor sampai jenuh, lalu akhirnya mereka sadar pentingnya transportasi umum dan mereka rela meninggalkan kendaraan bermotor pribadinya, lalu masyarakat kota yang kembali bersepeda.



Sekarang ini maniak sepeda justru disukai oleh orang berada, bukan mereka yang tidak punya pilihan lain moda transportasi. Anak muda yang baru-baru kerja, langsung nyomot motor sport. Atau kalau agak kayaan dikit, mobil murah LCGC. Kawula muda middle income, pastilah mampu membeli simbol-simbol kegagahan ini. Tapi bersepeda untuk berangkat kerja memang mantap. Spesial.

Selama 2 tahun bike to work, saya mengalami satu kali kecelakaan. Tertabrak mobil ketika sama-sama mau masuk ke kompleks kantor. Harusnya saya bisa marah. Bagaimanapun, pesepeda diutamakan keselamatannya oleh UU Lalu Lintas. Tapi rupanya kesakitan membuat saya tak bisa marah. Berhadapan dengan orang memang bisa menjadi lain respon kita. Apalagi kecelakaan itu melibatkan rekan kerja di lingkungan yang sama, cuma beda gedung aja. Dari situ saya belajar, jalanan Jakarta itu keras, Bung. Dan kita belum tentu menang sekalipun berada di jalur yang benar. Saya bahkan malas berurusan dengan orang yang tidak tahu benar-salah ketika benturan antara mobil dan sepeda. Kau pikir ada sepeda yang sengaja nabrakin ke mobil? Maaf emosi. Kecelakaan itu hampir satu tahun yang lalu. Sepeda yang ringsek roda belakangnya itu masih bisa saya gunakan untuk aktivitas harian, bukan balapan, tapi ya entah nilai jualnya.

No comments:

Post a Comment