Friday, September 9, 2016

Teater Bunga Penutup Abad

Meski bukan pujangga dan bukan Rangga, saya nonton teater juga. Seni pertunjukan langsung begini memang lebih greget. Tantangannya lebih rumit. Maka, saya ingin mengapresiasi dengan membeli tiket dan bertepuk tangan. Rasa-rasanya nonton film di bioskop lebih banyak diminati daripada nonton teater, mungkin karena harganya. Entahlah, saya bilang begitu tidak berdasarkan data. Saya sendiri kurang suka nonton film di bioskop, kecuali film Indonesia dan itu pun jarang.

Terutama karena sudah membaca Tetralogi Buru (Tetralogi Bumi Manusia), saya tertarik nonton teater ini. Dan mungkin juga karena berbeda dengan imajinasi ketika membaca novel, penilaian saya berkurang. Tapi secara umum teater ini super keren dalam hal yang berbeda dengan teater koma waktu itu.  
Jean Marais (Lukman Sardi), Minke (Reza Rahadian), dan Lukisan Annelis Mellema (Chelsea Islan) si Bunga Penutup Abad

Soal jalannya cerita, sudah banyak blog lain yang membahasnya, atau bisa juga dibaca di media daring lain. Jadi sebenarnya post ini hanya untuk menegaskan aktivitas saya saja. hahaha.

Baru dua kali saya nonton teater. Yang pertama teater koma "Semar Gugat: Sia-sia Menunggu Permoni Usai Pesta". Debut nonton teater cukup sukses. Waktu itu sih beli tiket yang paling mahal (250ribu) yang mana adalah tiket paling murah di Teater Bunga Penutup Abad yang saya beli ini. Dan ternyata selisih harga yang begitu jauh itu tidak mengurangi kepuasan, sebab saya menggunakan bantuan binokuler Celestron Impuls dengan 10 kali perbesaran. Foto-foto yang diambil juga menggunakan jasa teropong mungil itu.

Ekpektasi saya sudah kadung tinggi. Apalagi pemain teater ini di isi oleh aktris terkenal: Happy Salma, Reza Rahadian, Chelsea Islan, dan Lukman Sardi. Makanya, saya berharap teater kali ini lebih wow.Namun rupanya, lain yang saya dapatkan. Saya tidak mendapatkan seperti apa yang saya nikwati waktu nonton teater yang pertama dulu. Pokoknya keren. Mungkin waktu itu saya terlalu kagum karena pertama kali nonton.

Ada satu adegan yang rasanya risih, yaitu ketika Reza mencium bibir Chelsea (maaf ya saya tulis apa adanya). Bukannya cemburu karena si neng Chelsea dicium orang, apalagi cemburu karena belum pernah mencium wanita. Namun adegan dewasa itu belum layak ditampilkan di masyarakat Indonesia. Di hati kecil saya pun berharap tontonan macam itu tak perlu ada sampai kapanpun.

Peran Annelis Mellema sangat pas dilakoni oleh Chelsea. Sungguh. Dalam bayangan otak laki-laki macam saya pun Annelis harus putih dan agak rapuh, sebenarnya. Walaupun di kehidupan nyata Neng Chelsea begitu energik, kulit putihnya memberi nuansa rapuh ketika berada di atas panggung teater.

Sedangkan Minke dan Jean Marais diperankan oleh dua orang yang terbalik tinggi badannya. Minke yang pribumi harus tidak lebih tinggi daripada Jean yang orang Perancis. Soal acting, barangkali peran yang dilakoni Reza harus lebih utama daripada Lukman Sardi; saya cocok.
Nyai Ontosoroh (Happy Salma)
Yang ditunggu-tunggu: Nyai Ontosoroh. Happy Salma bukan pertama kali ini memerankan Ibu dari Annelis dan mertua Minke. Soal karakter, tak diragukan lagi sudah sesuai. Lalu, lagi-lagi, soal tinggi badan. Seorang gundik, sekalipun kembang desa, kayaknya kok gak tinggi-tinggi amat cenderung pendek.

Jadi, sebagai sebuah pertunjukkan yang tidak rutin, Teater Bunga Penutup Abad saya rekomendasikan untuk jangan dilewatkan. Mungkin kesempatan ini tidak akan berulang. Kalau ada pertunjukkan sejenis, saya berharap bisa menontonnya denganmu. Iya, kamu.

Jakarta memang macet dan dengan begitu jadi tidak romantis, tidak seperti kotamu. Tapi ada juga teater yang bisa dinikmati dalam pasangan-pasangan.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment