Wednesday, May 31, 2017

Tanda

Tidak ada satu pun peristiwa fisika di alam semesta yang membedakan hari Senin, Kamis, atau Minggu. Maka, yang menandakan bahwa hari ini Jumat adalah al Kahfi, sholawat, dan khotbah. Oh, tapi kamu boleh juga sih menandainya dengan bike to work, senam, atau nongkrong lebih lama di kantin kantor. Rayakan saja Jumatmu, apapun pendapatmu tentangnya: hari raya umat Islam, hari terakhir bekerja pekan ini, sehari lagi malam minggu dan sepi, atau sekedar ya pokoknya besok bisa jalan-jalan bareng keluarga.
Mengintip Langit Sumba (dokumen pribadi)



Hari-hari adalah kesepakatan, sedang waktu adalah kesempatan. Pagi berulang, tapi waktu tak pernah pulang, walau sebenarnya tak juga hilang. Waktu adalah pita panjang dari awal yang tak kelihatan dan akhir yang tak dapat ditebak, tapi ia digulung sama panjang dengan ukuran satu putaran bumi terhadap dirinya sendiri bernama hari.

Saya pikir ini sebuah keajaiban, bahwa semua agama-agama samawi (agama yang ‘diturunkan dari langit’) setuju kalau seminggu ada tujuh hari. Padahal tidak ada referensi ilmiahnya, atau peristiwa alamiah yang mendasarinya. Ini sebenarnya sebagai tanda, bahwa asal muasal manusia memang Satu. Hanya saja berselisih cara dan hari raya peribadatan. Tapi entahlah mengapa tidak ada yang menjadikan senin sebagai hari raya.

Hari ini bulan mati, sejak pagi. Dan ia lahir kembali malam ini. Alhamdulilah dapat dirukyat, karena secara hisab, sabit berada di ketinggian lebih dari 2 derajat di atas horizon ketika matahari tenggelam. Untungnya, baik melihat maupun menghitung, keduanya sepakat untuk menjatuhkan Ramadhan pada tanggal satu, pada hari Sabtu yang sama.

Sebenarnya soal bulan-bulan dalam kalender lunar (qomariyah), tidak ada beda pertanda fisika antara satu bulan dengan bulan lainnya. Lain dengan bulan-bulan dalam kalender solar (syamsiyah). Januari bisa dibilang hujan sehari-hari bagi sebagian besar negara di wilayah tropis. Desember adaalah musim dingin di utara. Tanggal 7 Juli hampir selalu ditandainya dengan terbitnya Vega dan tenggelamnya Sirrius, terutama pada tahun-tahun nonkabisat.

Namun, tidak ada peristiwa-fisikia rutin yang menandai malam ini adalah Bulan Ramadhan. Penandanya adalah dirimu sendiri, apa yang kamu lakukan terhadap waktu. Apa yang kamu kerjakan dari sabit yang terlihat malam ini sampai 29 atau 30 hari ke depan ketika Bulan mati dan hidup lagi dalam sehari. Jika kamu sahur, puasa, berbuka, tarawih, itikaf, memperbanyak qiraah dan sedekah, kamu boleh menandainya sebagai Ramadhan.

Jika dalam suatu bulan kamu banyak melakukan kondangan doang tanpa mengundang, bagi orang lain mungkin itu tanda bulan Syawal. Bagimu, mungkin itu perpanjangan Ramadhan. Kamu perlu berpuasa lagi. Itu tandanya kamu masih……..ah sudahlah.

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment