Thursday, June 8, 2017

Tiga Tahun Bike To Work

Setahun terakhir aktivitas bersepeda berkurang cukup drastis. Alasannya: kuliah malam. Tidak mungkin kan masuk kelas dalam kondisi berkeringat. Sebab tak ada tempat mandi yang cukup representatif di kampus. Dan repot. Belum lagi soal jadwal pulang kantor yang belum tentu tenggo. Terlalu riskan kalau harus bersepeda ke kantor, pulang dulu ke kos untuk mandi dan ganti naik belalang tempur.
Safira dan Malika, ketika masih bersama


Sebelas bulan terakhir ini memakai 'sepeda baru'. Sepeda pertama rakitan sendiri (yang ngrakit ya tetep mas-mas bengkel lah, cuma milih dan ngumpulin parts-nya sendiri--iya, sendiri). Sejauh ini cukup puas dengan kinerja sepeda. Selama ini tidak pernah rewel. Ban bocor di jalan hanya sekalinya ini, pas minggu kemarin (pertengahan Mei). Padahal sudah hampir setahun sepeda itu. Mungkin karena jam terbang yang masih rendah dan kecepatan tak terlalu kencang, ban sepeda aman-aman saja.

Sehubungan dengan kinerjanya yang memuaskan itu, saya memberinya hadiah. Saya belikan dia cyclocomputer Cateye Strada Cadence dan sepatu (kalau sepatu sih buat penunggangnya). Dalam waktu dekat juga akan saya beri bonus lampu belakang biar mau lembur malam.

Selama ini tak ada nama khusus untuk sepeda hitam-hijau itu. Yang teringat sih nama Malika, SE, kedelai hitam yang kubesarkan seperti anak sendiri sepeda hitam yang kurakit ketika masih sendiri.

Alhamdulillah tahun ketiga bike to work tidak ada kendala berarti. Cuma ya itu intensitasnya berkurang karena kuliah. Kecelakaan di tahun kedua b2w tidak akan membuat trauma. Tak akan lupa, meski mencoba memaafkan, bahwa ibu kota memang keras. Tapi saya bahagia kok bersepeda di Jakarta yang panas, polusif, primitif, sembrono, dan senjang ini.

Tidak banyak yang bisa diharapkan dari berubahnya ibu kota menjadi lebih ramah bagi pesepeda. Orang-orang miskin mampu membeli mobil, tapi tak mampu menyediakan garasi. Parkir di jalan-jalan sempit yang dilalui angkotan kota. Transportasi masal sama sekali tak bisa diandalkan. Untungnya ada anak muda kreatif bikin aplikasi penyedia jasa mempertemukan mas-mas ojek. Sak karepmu wes lah. Mau nyaman atau tidak, tetap bersepeda (walau ternyata kalah cuma oleh jadwal kuliah).

Lagian, lebih mudah untuk berpindah tempat bike to work atau bike to campus ke ibu kota negara lain daripada mengharapkan ibu kota sendiri nyaman untuk bersepeda.

Alhamdulillah lagi, sekarang banyak teman bersepeda di kompleks kantor. Ada komunitasnya, yang berarti juga banyak ratjun bertebaran. Sepeda tetangga keliatan lebih hijau. Meski sepeda lipat banyak diminati, sepeda jalan raya (roadbike/sepeda balap) tetap ditunggangi.

Sampai jumpa lagi. Tetap berkayuh dan bakar lemak, bukan minyak.

Salam,
AM

No comments:

Post a Comment