Monday, July 31, 2017

Kerudung

Di kampung saya, beberapa wanita tiba-tiba memakai kerudung ketika pengajian, pergi ke pasar, arisan, mengambil rapot, atau muslimatan. Selain untuk hal itu, mereka cenderung tidak memakai kerudung. Padahal, ketika saya sekolah di SMA, sebagian besar (atau hampir semuanya) muslimah berkerudung. Jika satu kelas ada 40 murid, biasanya 16 laki-laki dan 24 perempuan. Nah, dari 24 siswi itu, 20 memakai kerudung. Dua atau tiga orang nonmuslim. Jadi, di sebuah SMA terbaik di Kebumen, pada kurun waktu tahun 2006 s.d. 2009, sudah mirip-mirip madrasah aliyah, dengan kualifikasi intelegensia yang lebih baik dari sekolah agama yang biasanya ada di tiap kabupaten/kota.
Hijabers Idolaque: the sister


Dari sini saya boleh bilang, bahwa agama telah diminati orang-orang kota. Bisa jadi melebihi kedisiplinan orang-orang desa dalam hal amalan yang terlihat. Misal, orang kota melaksanakan sholat sesuai waktu; orang desa cenderung menyesuaikan dengan aktivitas sebagaimana biasa. Orang kota nan terpelajar, mengenakan kerudung hampir sepanjang waktu, terutama ketika beraktivitas di luar rumah. Orang desa, seperti yang saya bilang di awal tadi. Oh, ini bisa didebat sih, tapi yang saya lihat sih begitu, atau anggap saja begitu.

Lihat saja sekarang, reseller hijab online menjamur di mana-mana. Omzetnya menggiurkan. Tentu saja yang beli adalah teman-teman mereka yang melek teknologi dan punya uang. Dua kriteria ini yang tidak terdapat pada wanita-wanita di kampung saya, juga di kebanyakan kampung lain. Tentunya ini bisa jadi sebab mengapa tren berkerudung masih kurang diminati di wilayah yang jauh dari kota. Mohon maaf saya memakai kata 'tren', bagaimanapun kita harus jujur bahwa berkerudung karena mengikuti zaman dan belum benar-benar mengikuti perintah agama adalah sah-sah saja. Dan kata 'kerudung' juga sengaja dipilih agar lebih bernuansa tradisional, daripada kata hijab yang lebih cenderung dimiliki oleh muslimah kota yang cerdas, suka belanja, modis, dan sering posting di instagram baik foto dirinya atau bukan.

Pengetahuan, sekalipun itu hasil pendidikan kapitalis sekolah negeri, ternyata lebih mendorong orang untuk beragama secara lebih teratur, terutama secara kasat mata. Soal keikhlasan hati mah siapa yang tahu.

Nah, namun di jajaran para pemimpin wanita di negeri ini, atau para tokoh, belum banyak yang berkerudung. Apakah itu demi toleransi beragama? Contohnya, ibu negara Iriana Jokowi. Di jajaran kabinet pun, dari 9 menteri wanita, hanya Bu Khofifah yang berkerudung walaupun, kalau tidak salah, hanya satu menteri wanita yang bukan muslimah. Ini bukan soal bagaimana seharusnya orang-orang per orang menjalankan agamanya. Secara mikro, yaitu urusan masing-masing, toh para dai sudah mengingatkan, setidaknya bagaimana cara berkerudung yang syari (ini pun masih diperselisihkan). Secara makro, hanya satu dari 8 menteri muslimah yang berkerudung adalah sampel dari suatu populasi muslimah di Indonesia. Data ini boleh jadi sandaran kita berasumsi, bahwa memang keislaman muslimin Indonesia masih jauh dari ideal bila dilihat secara agregat.

Jadi wajar kalau aksi masa jutaan ummat muslim Indonesia di Jakarta dipandang sebelah mata. Isu kriminalisasi ulama hanya rengekan anak manja. Atau bahkan LGBT tidak mengkhawatirkan. Lha wong keberislaman muslimin Indonesia tidak sama, apalagi merata. Banyak anomali pokoke.

No comments:

Post a Comment