Tuesday, August 22, 2017

Jeda dan Kopi

Buku, kopi, dan sepeda bisa jadi adalah kawan sehari-hari saya menghadapi hidup di Jakarta sebagai orang kantoran kelas menengah ngehe yang benci kemacetan tapi ga mau mengandalkan transportasi masal untuk urusan komuter. Dan sesungguhnya dalam imaji melankoli saya masih merindukan bintang, langit malam, dan kamu. Rindu ini semakin berkarat karena langit malam Jakarta begitu jelek dan udah gitu kamu mungkin tidak ada di sini.

Buku, baik untuk dibaca maupun ditulis, adalah tempat menuangkan unek-unik sekaligus menyesap kesegaran bagi seorang mahasiswa paruh waktu yang masih single sampai waktu yang tak tentu. Jadi, kamu sebenarnya belum terdifinisi, atau saya belum seberani itu merasa kamulah dia.

Sebagai peminum kopi pagi kelas sachet-an yang masih ganti-ganti merk tergantung diskon atau paket penjualan, saya tak punya filosofi tentang kopi. Sebab zat laksatif pada secangkir kopi yang sekarang ini penting bagi saya. Saya pernah berhenti ngopi dua tahunan, pas kuliah. Sebabnya: waktu itu mamake berhenti ngopi. Jadi saya ingin menghormati beliau dengan tidak minum kopi di dekat beliau. Lagipula, apapun kopinya, yang penting obrolannya.

Minum kopi sambil baca buku di samping jendela yang menghadap taman, asyik ya kayaknya. Suasana kaya gini susah didapati secara gratis. Di Jakarta apa sih yang ga bayar? Soalnya belum punya tempat sendiri yang cukup luas untuk berkreasi, jadi ya minum kopi di kedai kalau mau dapet suasana kayak gitu. Atau bisa juga sih di balkon kantor. Intinya sih saya mau bilang, kopi dan buku adalah teman dekat, sahabatan gitu lah. Lebih erat lagi kalau ada jendela bersama mereka.

Kopi dan sepeda juga berteman. Para pesepeda (balap) amatir macam saya, percaya bahwa kopi bisa jadi power booster. Kopi yang dimaksud para pesepeda ini adalah kopi yang ada gulanya. Karena sesungguhnya para pesepeda butuh metabolisme cepat dan itu bisa didapat dari pembakaran glukosa yang ada di dalam secangkir kopi.

Ketiganya berteman, tapi sulit untuk dilaksanakan bersamaan. Buku, kopi, dan sepeda mengisi jeda di antara rutinitas. Atau ketiganya bisa jadi rutinitas itu sendiri, selain itu adalah jeda (?). Tapi tidak sama dengan "istirahatkan kami dengan sholat, wahai Bilal".

Mudah-mudahan blog ini bermanfaat bagi saya dan bagimu. Dan semoga konsisten.

Selamat ngopi. Jangan lupa kasih jeda.

AM

No comments:

Post a Comment