Friday, September 29, 2017

Review Karya Ke-10 Andrea: Sirkus Pohon

Bentang Pustaka mengenalkan novel ini, mula-mula, dengan sebutan "Karya ke-10 Andrea." Dengan disimpannya judul novel itu, kita jadi bertanya-tanya. Setelah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta di Dalam Gelas, Sebelas Patriot, Laskar Pelangi Songbook, dan Ayah, lalu apa kira-kira judulnya? Bisa jadi, disimpan karena memang penerbit sadar judul karyanya yang ke-10 tidak seperti judul-judul sebelumnya yang melankolis pratiotik sekaligus lucu.
sumber: dokumen pribadi

Judulnya Sirkus Pohon. Kesan melankolis dan patriotis meluntur sudah, yang ada tinggal lucunya. Ternyata tidak hanya membawa tawa, cerita di dalam buku ini juga ada romantisme pahit-legit yang sejenak mengayunkan rasa.

Meski tidak mungkin seheboh Laskar Pelangi ataupun senikmat Cinta di Dalam Gelas, dan yang jelas pasti bukan masterpiece, novel Sirkus Pohon memang sebuah pertunjukkan yang perlu kita luangkan waktu akhir pekan untuk menontonnya.

Tipikal dengan karya-karya beliau sebelumnya, novel ini masih Melayu, ringan, banyak omong, dan tempo cepat. Dengan bab-bab pendek, Andrea mencoba membuat pembaca ketagihan, dan memang berhasil.

Sejak novel Ayah, Andrea tidak banyak memberikan motivasi bagi para pembacanya untuk meraih pendidikan tinggi. Sebaliknya, memberi gambaran kepada para pembacanya yang telah berpendidikan tinggi itu untuk merenungkan kembali dunia pendidikan di sekitarnya: bahwa ada saudara lain yang masih bernasib naas dalam hal pendidikan dan agar para pembaca berkenan menolongnya.

Sebagaimana sirkus, Andrea tidak menyajikan pertunjukkan tunggal seorang tokoh, tapi semua tokoh mendukung satu judul besar pertunjukkan. Seperti novel Ayah, kali ini Andrea menjalankan dua cerita utama dengan beberapa pemain figuran dalam novelnya. Tokoh 'aku' tidak lagi menceritakan dirinya sendiri sebagai alur dominan, tapi dia lebih banyak memoderatori tokoh Tegar dan Tara agar lebih banyak tampil di panggung.

Cerita di mulai dengan pertemuan Tara kecil dan Tegar kecil di taman bermain Pengadilan Agama ketika masing-masing orang tua mereka mengikuti sidang perceraian. Sejak saat itu, keduanya saling mencari dan tak pernah dipertemukan sampai Tara memperbaiki sepeda di bengkel Tegar. Tapi keduanya tak saling mengenali. Bahkan sampai ketika Tegar telah mendaftar sebagai pemain sirkus di sirkus keliling milik keluarga Tara, keduanya masih dipertemukan bukan sebagai Tara dan Tegar kecil sewaktu kelas 5 SD dulu. Hingga para pemain figuran berkonflik tentang pemilihan kepala desa, yang pasti dibuat hiperbola oleh Andrea, yang turut mengakibatkan ditutupnya sirkus keliling, Tara dan Tegar belum diperpekanankan mengenali satu sama lain. Bersamaan dengan tokoh 'aku' yang lagi-lagi jadi bujang lapuk dan akhirnya menemukan cinta, lalu nasib membuat si Cinta kehilangan kesadaran hidup normalnya, sampai sembuh kembali, barulah Tegar dan Tara saling menemukan apa yang telah dicarinya selama ini. Pertunjukkan sirkus akhirnya digelar.

“Jika suatu hari nasib memberiku cinta, aku ingin mencintai perempuanku seperti Ayah mencintai ibuku, dan aku berjanji pada diriku sendiri, jika ditimpa kesedihan, aku tak mau bersedih lebih dari 40 hari.”

Salam,
-ΛM-

No comments:

Post a Comment