Saturday, October 7, 2017

Kata-kata Kota Kita

Dalam rangka menandai 4 tahun di ibu kota, inilah kata-kata tentang kota kita Jakarta.

Saya sudah bosan dengan Jakarta. Mungkin dengan segelintir orangnya. Dengan jalanannya. Dengan perilaku berkendara orang desa yang dibawa-bawa ke kota. Dengan orang miskin yang mampu membeli mobil tapi tak mampu menyediakan garasi. Dengan orang kaya yang tak mau berbagi jalan, merasa mampu membeli mobil dan membayar sopir untuk setiap anggota keluarganya: jalanan dipenuhi mobil-mobil yang kosong penumpang.
Empat Tahun di Ibu Kota: Apa yang Kau Cari?
(dokumen pribadi)
Terima kasih kepada para penyedia jasa transportasi daring yang memberi opsi bagi para generasi baru ibu kota untuk tidak perlu memiliki kendaraan sendiri, tidak pusing soal parkir dan urusan perpajakan karena memiliki kendaraan, dan tidak takut kena tilang. Sedih juga mengingat diri ini masih ketergantungan dengan sepeda motor yang praktis dan sebenarnya termasuk egois untuk ukuran ibu kota sebuah negara. Mungkin masih bisa dimaklumi karena ini Jakarta. Ya, ini kan Jakarta, ibu kota suatu negara yang sepertinya memang tidak berniat untuk maju.

Untuk sedikit mengurangi rasa bersalah, saya memilih bike to work meski tahu Jakarta tak ramah untuk pesepeda. Sebenarnya ini bukan pilihan karena rasa bersalah, tepi memang sudah dari sananya hidup saya tak jauh dari persepedaan.

Atau mungkin sebenarnya saya benci pada diri sendiri. Sudah tahu tinggal di ibu kota, masih saja tak beranjak dari golongan middle income. Dengan pendapatan rata-rata air, hampir mustahil untuk bisa membeli rumah tinggal yang bisa dijangkau hanya dalam waktu kurang dari satu jam perjalanan dari dan ke kantor. Pilihan apartemen sederhana tak juga bisa dipertimbangkan, dengan harga setara rumah di Bojonggede, hanya dapat ukuran kurang dari 30 m2. Tinggal di daerah suburban Bodetabek juga tak ada keyakinan akan bisa ditempuh dalam waktu lebih cepat dari 3 jam pulang-pergi, bahkan pada masa 5 tahun mendatang. Tak banyak pilihan.

Tapi belakangan saya melihat sedikit pelipur lara. Tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah tanpa masalah. Hanya memalingkan ingatan saja. Bahwa, selagi di Jakarta, ambil saja manfaatnya. Nikmati fasilitasnya. Mata ini harus lebih jeli lagi melihat detil-detil ibu kota yang menyenangkan.

Misalnya, berdiam diri Sabtu siang di Gedung Baru Perpusnas yang keren. Mengikuti events yang tak ada di kota-kota lainnya. Berjalan kaki sore hari dari IFI ke GI yang sepi sekali. Dari jembatan di budaran HI, di sebelah barat matahari dijepit siluet gedung-gedung ibu kota. Maaf, tidak ada foto sebagai ilustrasi. Coba saja.

Ohya, saya pernah bilang (di blog ini juga sepertinya), tentang mengapa memilih Jakarta. Waktu itu memang tidak banyak pilihan. Di antara sedikit pilihan bagi orang yang terikat kontrak dinas, memilih Jakarta adalah yang terbaik di antara pilihan yang buruk. Daripada tidak pasti di kota mana dan pastinya pindah-pindah, yang pada akhirnya juga akan dipindah ke Jakarta lalu dibuang lagi, mending langsung ke Jakarta dengan keyakinan bahwa tinggal di ibu kota adalah batu loncatan untuk tinggal di ibu kota negara lain, lebih cepat dari mereka yang memilih penempatan daerah.

Namun, sampai dengan 4 tahun tinggal di Jakarta, keyakinan itu belum terbukti. Mudah-mudahan 2 tahun lagi. insyaAllah.

Salam,
AM

No comments:

Post a Comment