Thursday, April 19, 2018

Women in Black Abaya

From the view of a foreigner, who is Arab-Moslem lives in Indonesia and is my teacher, Indonesian Moslem as a majority population does not show the face of Islam completely.

The Women in Black Abaya gathered in Monas, Feb 17th 2018, on Majelis Nurul Musthofa 22nd Anniversary. 
Dalam suatu sesi tanya-jawab bebas sewaktu rihlah, beliau yang berlatar pendidikan S1 s.d. S3 di Al Azhar bidang ilmu hadist, banyak bercerita tentang Indonesia dari sudut pandangnya yang orang Arab dan seorang muslim. Tentunya semua disampaikan dengan bahasa Arab, dan saya mencoba menyampaikan kembali sebagian yang dapat saya pahami dengan beberapa penyesuaian dan penambahan.

Khususnya adalah persoalan hijab wanita Indonesia. Bahwa masih banyak wanita Indonesia yang 87 persennya (data sensus 2010) adalah muslim kalau keluar rumah tidak mengenakan hijab (baik yang katanya syariah atau yang tidak). Padahal Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Indonesia sampai saat ini masih menampilkan wajah kewanitaan Indonesia sebagai perempuan tidak bertudung, misalnya dalam pariwara wisata, juga pakaian 'adat' ibu-ibu sosialita pejabat negara. Itu memang Indonesia sekarang, yang merupakan hasil kebijakan masa lalu. Meski memang, dalam Islam kecantikan bukan untuk dikonteskan, hanya satu dari 34 kontenstan di acara kontes kecantikan semacam Miss Indonesia cukup menjadi rangkuman pilu keberadaan hijab bagi perempuan Indonesia.

Barangkali karena jauhnya jarak Indonesia dari negeri asalnya agama Islam, wajar bila Indonesia secara agregat belum tampak islami-islami banget, terutama secara kultur. Pada zaman lampau sebelum datangnya orang asing ke Nusantara, baik penjajah maupun pendakwah, perempuan masih bertelanjang dada. Ketika kebudayaan asing-modern masuk, dikenakanlah pakaian yang lebih tertutup atau lebih sopan dalam pengertian global masa itu. Setelah datangnya Islam era walisongo dengan strategi jitu akulturasinya, pergerakan Islam terbilang cukup terhambat karena adanya golongan yang memang merasa tetap perlu mempertahankan ke-Nusantara-an, terutama pada saat titik penentuan momentum kemerdekaan.

Tentu kita harus berterima kasih kepada aktivis dakwah kampus tahun 80-an, yang kalau kita mau jujur, mereka secara langsung maupun tidak, sebagian atau sebagian besar, kemudian merupakan simpatisan suatu organisasi yang awalnya berasal dari suatu negeri Islam di Arabia, bukan organisasi semacam NU dan Muhammadiyah yang asli pribumi. Terlebih NU sih, yang cenderung defensif dengan segala kebijaksanaan yang tidak mudah dimengerti.

Tentu semua orang tahu, putri-putri Gus Dur yang ulama itu, bahkan ada yang sampai bilang wali, tidak berkerudung sebagaimana jamaknya wanita Indonesia sekarang, yang juga dibilang mulai kearab-araban. Sama halnya juga dengan Najwa Shihab yang putrinya Quarish Shihab, mantan menteri agama RI, memiliki garis keturunan yang sampai kepada Rasulullah dan bisa saja disebut habib atau ahlul bait.

Eh btw, Najwa kalau tampil solo di TV, dia tidak berkerudung. Akan tetapi jika tampil bersama abinya, dia berkerudung selempang khas Indonesia pada masa lampu, terlalu lampau. Tapi paling tidak, dia sendiri mengetahui bagaimana syariat bagi perempuan dalam berpakaian.

Indonesia berproses. Akan tetap ada segolongan orang yang bertahan pada status quo, mempertahankan wajah Islam era walisongo lalu zaman kemerdekaan, yang pada masa itu bertudung 'masih seadanya' dan cukup demikian saja sampai esok nanti. Akan ada pula yang berjuang untuk mengajak muslimah Indonesia agar berpakaian sesuai hakikatnya, baik secara memaksa maupun dengan cara yang lebih humanis.

Pada akhirnya akan berlangsung proses tawar-menawar, yang insyaAllah dimenangkan oleh para pembaharu. Ketika itu, saat muslimah jamak berhijab di seantero Nusantara yang bisa jadi sebagai bagian penting pertanda kemenangan Islam pada zaman akhir, tidak penting lagi siapa yang benar: apakah berhijab itu syariat atau budaya Arab yang menurut mereka tidak cocok dengan Nusantara. Akan tetapi, tentang siapa yang berjuang menjadikan hijab semacam black abaya membudaya di kalangan muslimah Indonesia.

Salam,
Abdullah M.

No comments:

Post a Comment