Saturday, June 30, 2018

Dari Bola ke Roda

Mumpung lagi Piala Dunia yang juga akan bersinggungan waktu dengan Tour de France 2018....

Teringat kuteringat, sudah sepuluh tahun sejak pencapaian terbaik karir amatir sebagai penghobi sepak bola. Dan pencapaian terbaik itu hanyalah juara di liga SMA dengan kontribusi dua dari tiga gol di partai final, juga 3 gol lainnya dari awal liga yang turut mengantarkan tim kuda hitam sampai ke pamungkas laga. Yeah, aku kok ingat betul hal tak penting beginian...


Am I not me?

Pemotretan (dokumen pribadi)

Banyak hal berubah dalam sepuluh tahun terakhir: dari dunia eksakta ke sosialita (?), friendster ke instagram, MIPA-Astronomy ke Akuntansi ke Finance (mungkin malah baru mau ke Sharia Economics?), dari bola ke roda; menyepak bola berganti mengayuh sepeda, dari sendiri sampai masih sendiri juga. Kawan pun bergantian. Teman ternyata ada yang mempunyai batas kadaluarsa, kuakui.

Bedanya sepeda dan sepak bola agaknya ada di skill. Bermain bola perlu kelihaian jika berniat untuk dipertandingkan sedangkan bersepeda cukup stamina untuk bisa dirutinkan. Bisa juga sih sepeda untuk dibalapkan, cuma mungkin sudah tidak waktunya. Sebagaimana juga dengan sepak bola/futsal di umur segini pun sudah tinggal main-main sahaja.


Pada akhirnya kembali ke tujuan dasarnya: berolah raga. Menggerakkan badan. Saya bersyukur orang melihat saya sebagai orang yang suka olah raga, paling tidak olah raga sepeda. Kadang-kadang main pingpong juga, sekedar melepas penat kerja, bukan untuk tujuan keahlian.

Cedera Lutut Mei 2015

Setelah cedera lutut parah tengah tahun 2015, saya masih optimis bisa bermain bola lagi, entah kapan. Saya yakin dengan penyembuhan tubuh saya sendiri yang awesome. Dua tahun berlalu, saya mulai latihan futsal. Memang beberapa kali merasa lutut bergoyang ketika menendang bola, lebih lagi ketika menjadi tumpuan. Tapi masih mungkin bermain, bila saya menurunkan standar permainan: sekedar bermain dan tidak perlu menonjol.

Dokter di klinik kantor bahkan menertawakan kekhawatiran saya. Katanya, kalau cedera ACL, pasti saya tidak bisa jalan. Beberapa menit setelah kejadian saya memang tidak bisa jalan sih. Entah yang dimaksud tak bisa jalan hanya momen sebentar itu saja atau gimana. Kenyataannya memang sesaat setelah kesleo lutut, kaki seperti tak ada tenaga. Hilang kekuatan, lemes pol. Lupa sih, bisa digerakkan apa ga, dalam artian merasa ada 'sambungan' atau merasa seperti tak ada kaki. Lupa soal itu.


Setelah kesleo-lutut yang pertama medio 2015 itu, kayaknya di tahun yang sama, pernah sekali lagi salah menapak. Ya karena memang belum pulih. Saya jatuh ketika turun dari motor, kaki menapak tidak mantap, kaki kanan terdorong ke dalam (seperti pada kelainan kaki bentuk X). Pulih dalam beberapa hari, setelah diurut. Lama setelah itu, saya merasa siap jika ada kompetisi futsal di kantor--kompetisi yang menjadikan saya kesleo-lutut itu. 


Bike Accident August 2015

Jakarta yang keras ini telah mengajari saya dengan pengalaman ditabrak mobil ketika bersepeda. Tulang kering kaki kanan terbentur keras dengan frame sepeda sampai ada bekas cekungan; cukup ngeri. Tapi ini tidak bikin kapok nyepeda. Cuma jadi catatan aja: 1. bersepeda di Jakarta itu cukup berbahaya dan 2. meski berkantor di kompleks yang sama (dan adalah kementerian Keuangan), belum tentu si pengemudi mobil itu bertanggung jawab; cukup tau aja ada orang seperti itu.

Cedera Lutut Lagi Agustus 2017
Tapi kemudian semuanya berubah ketika salah-menapak yang ketiga kalinya. Mengejar bola jauh saat pingpong, kaki tak kuat menumpu, roboh begitu rupa. Ini jadi titik keputusan untuk berhenti bermain bola. Sudahlah boi. Pensiun dini dari dunia bola.

And thats, kid, how I stopped playing football. Ini juga mengapa saya tidak berolahraga lari, aktivitas kekinian kaum muda di mana saja berada. Seolah kalau sudah ikut acara lari-lari gitu, udah keren. Ini sih saya bilang gini karena iri ga bisa ikut. haha. soalnya kalau ikut acara bersepeda sampai keluar kota semacam Grand Fondo Indonesia lebih mahal cuy.
Salam dua pedal,
AM

No comments:

Post a Comment