Friday, August 31, 2018

Islam Kota, Islam Desa

Sepadan dengan penyebutan Islam Nusantara, Islam kota dan Islam desa di sini bukanlah genre baru dalam berislam. Ia hanya istilah untuk mempermudah pendefinisian.

Konsep yasinan, tahlilan, dll, secara konten tidak masalah dengan syariah. Namun selera orang kota tidak lagi begitu. Bisa jadi ini juga karena pengaruh pendapat sebagian ustadz 'kota' yang anti-yasinan-kenduri-dll. Yang sebenarnya sama saja kontennya dengan mentoring ala mahasiswa. Di kalangan orang-orang awam, yasinan dan mentoring sama-sama berisi orang-orang yang masih belajar mengaji, kalau diuji seorang-seorang, masih belum standar membaca qurannya.

Diakui oleh sebagian orang yang masih jauh dari one-day-one-juz, membaca quran di malam jumat dalam format yasinan membantu mereka untuk berinteraksi dengan quran setidaknya seminggu sekali. Sayangnya, pembelajaran soal membaca quran yang minimal ini dikelirukan dengan hanya membaca surat yasin (dan beberapa ayat 'populer' yang harusnya dibaca harian). Bahkan ketika di hadapkan pada keutamaan surat kahfi di hari Jumat, para ulama Islam Nusantara begitu kekeuh mempertahankan yasin dibanding al kahfi  yang telah terang kekhususannya di hari Jumat. Benar bahwa surat yasin memiliki keutamaan yang mungkin layak dijadikan pilihan pertama ketika hanya sempat membaca quran sekali saja dalam seminggu, tapi sebenarnya tidak harus di hari/malam Jumat. Dan, agak salah juga jika orang-orang kota menganggap yasinan sebagai bid'ah yang harus dibuang mentah-mentah. Ini semata-mata metode beda zaman yang harus dilakukan koreksi dan improvisasi menyesuaikan dengan keadaan.


Pada zaman walisongo hingga awal kemerdekaan, dakwah Islam metode akulturasi budaya memberikan hasil paling efektif dalam mengislamkan Jawa (dan nusantara). Tapi periode itu tampaknya sudah selesai. Seharusnya kita meniru walisongo dalam hal metode aplikatif dalam berdakwah, dan bukannya bentuk dakwah yang sama diaplikasikan untuk zaman lain. Ini kenyataan di kampung saya: orang-orang mendatangi kenduri bakda ashar di rumah samping masjid, tetapi tidak jamaah ashar di masjid. Kenduri yang merupakan doa bersama dengan konten tahlil dan ayat-ayat quran adalah hal baik, yang merupakan metode ulama zaman dulu untuk mengalihkan orang-orang desa dari sesajen dalam rangka suatu hajat. Namun, ulama Islam Nusantara berhenti di situ, tidak mengajak orang-orang desa untuk mengutamakan sholat jamaah di masjid dan berislam lebih tertib dengan format menyesuaikan zaman. Alih-alih mengakui keusangan metode ini, ulama Nusantara kekeuh bahwa tidak ada masalah syariah dengan kenduri. Hal ini membuat jarak antara agama dengan orang-orang kota dan pemuda, utamanya yang mudah terpengaruh dengan kajian tematik di masjid-masjid dan hanya mendengar sekilas tentang bid'ah.

Kita semua menyaksikan bahwa orang-orang kota sekarang kompak memasukkan anak-anaknya ke pesantren tahfiz/quran dengan pengelolaan kekinian. Siapa mereka? Tidak bisa dipungkiri: orang-orang kota yang berpendidikan modern, memiliki uang, dan sedikit waktu untuk mengasuh anaknya sendiri, dan mungkin juga lebih sedikit pengetahuan agama dibanding seumuran mereka di desa yang dulu nyantri.

Saya pribadi tidak cukup memahami soal pesantren, tapi beberapa hal ini terjadi berbarengan yang bisa jadi faktor penentu bangkitanya kembali pesantren dalam format modern yang diterima orang-orang kota: terangkatnya nama Gontor lewat novel Negeri 5 Menara-Ahmad Fuadi, gembor-gembornya Ustadz Yusuf Mansur tentang quran dan sedekah, dan fenomena Aa Gym dan Daruut Tauhidnya. Menurut saya, peristiwa-peristiwa tersebut turut menghubungkan orang-orang kota kepada agama, selain juga pengaruh ke-arab-araban di Indonesia. Secara kebetulan tiga tokoh/peristiwa itu bukanlah orang Jawa, yang kehadirannya juga mendapat kritik dari kalangan Islam Nusantara.

Fenomena berikutnya yang tak kalah penting yang semakin menggairahkan orang-orang kota menghidupkan agama adalah kehadiran Habib Rizieq Shihab (HRS) dan Ustadz Abdul Somad (UAS). Sekali lagi, di hadapan Islam Nusantara, dua tokoh moderat pembaharu ini mendapat kritik pedas. Bisa jadi ini tentang 'pangsa pasar' atau sentimen kesukuan, yang jelas keduanya bukanlah Jawa. Tapi mari kita elaborasi lebih lanjut, terutama soal UAS saja.

UAS pernah menyampaikan bahwa di NU ada NU Garis Lurus. Beliau menyebutkan beberapa nama yang dapat dijadikan referensi dalam beragama dan tidak ada satupun dari 3 orang yang disebutkan itu petinggi Islam Nusantara. Bisa jadi hal ini menjadi sebab gesekan UAS dengan NU yang sebenarnya UAS juga pernah menjadi pengurusnya. Sebagai penoton di luar lapangan pun kita tahu bagaimana UAS memiliki banyak jamaah sampai-sampai akan dijadikan cawapres karena popularitasnya diharapkan dapat mendulang suara. Hal ini juga dikhawatirkan mengganggu pangsa pasar Islam Nusantara karena kehadirannya yang di tengah-tengah: membawa kembali orang-orang kota, baik yang tadinya cenderung radikal dan oran kota yang tidak tertarik dengan Islam ala 'kampung' sekaligus menarik orang-orang desa yang bosan dengan metodologi lama Islam Nusantara.

Secara pribadi, jujur saya terenyuh dengan fakta di beberapa grup WA yang berafiliasi dengan nahdliyyin yang saya ikuti, yang tidak bahagia dengan kehadiran UAS, bahkan cenderung represif. Sebagai orang NU, kurang lucu apalagi coba ceramah Ustadz Abdul Somad itu? Tapi beliau tegas, tidak miring sebelah demi mengakomodasi pilihan kelompoknya.

Sebenarnya banyak lagi geliat orang-orang kota dalam beragama namun terlalu panjang untuk dijabarkan, seperti para artis yang sekarang banyak berhijab dan mengundang UAS dan Ust. Adi Hidayat (dan bukannya ulama Islam Nusantara), Islamic Fintech Paytren-nya Yusuf Mansur, Koperasi 212, gerakan "Yuk Nabung Saham" oleh Idx dan Islamic Idx, dlsb.

Mohon koreksi dan maaf bila ada salah.

Salam,
Abdullah M.

1 comment: