Saturday, October 6, 2018

62 Purnama

Judulnya agak lembek ya? Gak juga. Itu hanya penyebutan lain untuk tahun. Karena memang telah terjadi konjungsi Bulan sebanyak 62 kali sejak saya menetap di Jakarta, atau 5 tahun sejak memulai ikatan dinas yang berarti juga telah 50% ikatan dinas ini dijalani. Rentang waktu ini juga membuat perubahan berat badan dari 52 sampai 59/60 kg. Selama itu pula saya telah menggunakan 5 buah sepeda berbeda untuk bike to work. Akan tetapi, sampai dengan purnama pertama 1440H, saya masih sendiri dengan beberapa catatan.

Suatu Fullmoon yang Super (dokumen pribadi)
Mapan dalam ketidaknyamanan atau nyaman dalam ketidakmapanan?



Normalnya, 5 tahun kerja adalah waktu yang cukup untuk disebut mapan. Dalam arti, misalnya, menikah di tahun ke-3 dan telah memiliki hunian sendiri pada tahun ke-5. Lalu mengangsur mobil ketika istri hamil anak pertama. Sudah lima tahun bekerja: rumah tak punya, kuliah belum beres, pasangan tak ada, traveling kagak, tapi sepeda punya dua. Kalau begitu, berarti saya tidak normal? Bisa jadi. Bagi saya, menghabiskan waktu 4 tahun untuk kuliah D3 itu sudah permulaan ketidaknormalan.

Jakarta.

Alhamdulillahnya, saya mulai berpikir positif soal Jakarta, kalau area permainannya hanya di sepanjang jalan Sudirman Thamrin di pagi hari dan kamu naik sepeda. Kota ini tidak kekurangan jalan, tapi kebanyakan kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor. Dan terlalu banyak orang miskin atau bermental miskin, termasuk mereka yang mampu membeli mobil dan menjebak diri sendiri dalam kemacetan.
Sehubungan dengan suhu politik, tidak hanya di ibu kota yang terkena panasnya sepanjang kita terhubung dengan dunia maya. Jadi, usaha untuk keluar Jakarta juga tidak akan meredam efek kekacauannya, bila iya kacau. Mungkin ada efeknya sih, kalau keluar Indonesia sekalian.

Hunian.

Meski positif, hal ini belum bisa dijadikan penentu untuk bisa menilai Jakarta sebagai tempat yang layak buat hidup dan membangun keluarga (cielah). Ya, untuk menikmati itu kan tidak murah, dari sudut pandang seorang PNS dengan penghasilan rata-rata. Masih kurang penghasilanmu? Kurang bersyukur kau! Ya bukan begindan bo'. Ini tidak mudah diceritakan. Rizki pasti mencukupi hajat selama hidup. Tapi kan kita tidak bisa menyerah begitu saja dengan 'potong rata' ala aparatur sipil.

Kerja.

Barangkali ini saat-saat saya paling bosan dengan kerjaan (kalau tidak ada perubahan drastis, mungkin tahun depan juga tambah bosan sih--kalau masih di sini). Atau, khususnya, dengan Kemenkeu sendiri. Mengingat semua perlakuan yang telah dilakukan instansi. Walaupun sebenarnya saya sendiri yang salah mengapa memilih Kemenkeu. Pada dasarnya Kemenkeu ini tempat bagus untuk bekerja, jika kamu tidak memasukinya dengan jalan menjadi mahasiswa ikatan dinas yang lulus tahun 2011, 2012, dan 2013.

Termasuk soal kesombongan Kemenkeu yang menerapkan jam kerja 07.00-16.30, atau 07.30-17.00, atau 08.00-17.30. Saya bilang sombong karena menganggap panjangnya jam kerja ini mengindasikan sebagai kementerian dengan tingkat remunerasi (baca: tunjangan) paling tinggi. Padahal secara tidak langsung mengaku bahwa kinerjanya hanyalah didongkrak oleh jam kerja dan bukannya efektivitas dan efisiensi kerja.

Secara pribadi saya sendiri tidak cocok dengan jam kerja tersebut untuk jangka panjangnya diterapkan di Jakarta. Idealnya itu seorang Bapak sudah tiba di rumah ketika maghrib berkumandang, lalu mengajak keluarganya berjamaah ke masjid, which is ga mungkin bisa begitu kalau rumahmu di Bodetabek sementara kamu ga mampu beli hunian di jarak 45 menit, apalagi tanpa melibatkan pembiayaan ribawi.

Omong-omong soal PNS, masih banyak betul ya peminatnya. Ya sebenernya sih oke-oke aja. Beberapa pekerjaan profesional memang ada baiknya sebagai PNS saja, seperti peneliti, dosen, dokter, dan sebangsanya. Kalau untuk pelayanan umum, para pendaftar CPNS ini perlu menyadari bahwa dia menawarkan diri untuk menjadi servant, bukan lagi priyayi yang harus dihormati. Dilihat saja sebagai suatu pekerjaan tempat kita mencari nafkah, bukan suatu status sosial yang mempunyai arti tersendiri.

Salam,
Abdullah M.

No comments:

Post a Comment