Tuesday, May 21, 2019

Pribumi

Orang-orang Indonesia adalah orang-orang baik, terlepas dari apapun agamanya. Bukan baik dalam artian sempurna, tapi secara umum, anggap saja begitu: orang Indonesia baik baik tidak peduli apapun agamanya. Walaupun, tentunya, baik saja tidak cukup untuk bisa selamat.

Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini, daripada pemuda kutu buku yg hanya memikirkan diri sendiri. -Ir.Soekarno


Dalam hal ini, saya bukan pemuda yang disenangi Bung Karno. Yang pertama, karena saya minum kopi tapi tidak merokok. Yang kedua, mungkin saya (tidak hanya) memikirkan diri sendiri, namun belum bisa dikatakan kutu buku juga. Saya tidak benar-benar egois, sungguh. Paling tidak saya tetep memikirkan untuk hidup orang lain meskipun tidak seluas cakupan bangsa Indonesia, dan sudah terlalu lelah-pikir sebelum menuangkannya dalam kerja nyata.

Bahkan, ada yang berpendapat bahwa kehidupan Indonesia (atau Jakarta?) mirip-mirip keadaan di Madinah era awal Islam. Tunggu dulu. Selemah itukah definisi masyarakat madani? Tidak sama antara kebebasan menjalankan peribadatan sesuai dengan keyakinan agamanya dan berlakunya syariat Islam yang rahmatan lil'alamin.

Seperti misalnya ketika kita hendak makan di mall sekelas Grand Indonesia. Hanya ada beberapa yang terang-terangan menuliskan sertifikat halalnya (dan tentu itu sebuah nilai jual lebih, harusnya). Ada yang sekedar "no pork and lard". Begitu pula dengan konsumennya, ada yang benar-benar peduli dengan "harus halal" ada pula "yang penting bukan babi dan ciu".

Wajar bila ada kelompok yang berasumsi bahwa untuk menegakkan kebenaran (yang mereka yakini), perlu melalui kekuasaan de jure, tidak hanya de facto. Sebutlah misal, di Indonesia ada lembaga independen yang bertugas mengeluarkan fatwa dan memberikan sertifikasi halal. Lembaga ini tidak mewakili pemerintah, tidak juga berafiliasi dengan Kementerian Agama. Keberadaannya sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia memisahkan urusan bernegara dan beragama.

Secara de facto, bisa saja Islam mempunyai kepemimpinan bayangan melalui MUI ini. Kenyataanya tidak, apapun alasannya. Justru karena ketidakpuasan inilah, kiranya, sebagian orang menganggap perlu mengambil alih kepemimpinan negara. Kembali lagi saya katakan: Indonesia ini negeri yang gemah ripah loh jinawi, namun (atau, walaupun?) tidak islami. Riba. Membuang sampah sembarangan. Pacaran di flyover.

Saya pikir memang muslim Indonesia masih terlalu lemah dan hanya mengandalkan jumlah. Kita boleh tengok negeri tetangga yang kadang kita benci (lebih tepatnya: [saya] iri). Malaysia bisa jadi lebih heterogen dalam hal ras antarbangsa. Indonesia memang bhineka, tapi kebanyakan merupakan suku di dalam suatu bangsa, masih tetap saja itu "orang kita sendiri". Kalau di negeri tetangga kan komposisi ras lain seperti Tiongkok, India, dan sedikit western mewarnai keberagaman Malaysia. Keuangan syariah di sana lebih maju. Orang-orang Melayu menggunakan kultur Islam-Arab dalam pemberian nama anak (maksud saya: fulan bin fulan). Di Indonesia? Mungkin iya, terutama Melayu Islam di Sumatera dan itupun sedikit. Karena, Islam di Indonesia kan dikuasi Jawa.

Kamu tahu saya bukan muslim fanatik, apalagi fundamentalis. Paling tidak, belum saatnya. Saya masih mengumpulkan pengetahuan agar dapat menentukan keberpihakan secara adil. Apalagi kelompok-kelompok yang ada sekarang masih berkembang, belum matang. Tentu tidak menunggu sampai mereka sempurna baru kita bergabung. Setidaknya mempersiapkan diri sendiri. Seandainya saya ditakdirkan berumur panjang atau umat ini ditakdirkan berumur pendek dan saya mengalami zaman persatuan umat, saya akan berkomunikasi dengan saudara-saudara saya dengan bahasa Arab.That's it.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan, saya merasa sedih dengan kebedaan umat muslim sebagai mayoritas di Indonesia. Sudah kadung berharap karena jumlahnya yang besar, ternyata sangat lemah dan kalah. Sudah untung ada dai yang sudi mampir ke nusantara, bahkan melewatkan India, untuk menyebarkan dan mengabarkan Islam.

Secara teori, jika Islam memimpin suatu pemerintahan, maka nonmuslim akan aman. Apa yang dikhawatirkan sekarang seandainya Islam benar-benar memimpin secara de facto dan de jure bisa merusak kebhinekaan, adalah kesalahan dalam praktik. Mungkin karena umat belum siap. Umat nonmuslim di Madinah dan Istanbul terjamin keamanannya pada saat Muslim berkuasa. Sekarang orang masih sangsi ya karena contoh yang ada semacam FPI. Sebagian muslim sendiri merasa ngeri. Makanya mereka lebih berpihak kepada golongan yang akomodatif dan tidak mengharamkan rokok.

Nanti dulu. Jangan prematur. Umat belum siap kalau sekarang sudah diberi kekuasaan. Namun, bersiap-siaplah dengan tetap menghormati mereka yang sudah mulai berjuang.

No comments:

Post a Comment