Sunday, September 15, 2019

Timur

Jadi sekarang, kalau sudah toleransi, rasanya sudah yang paling Indonesia. Dan agaknya, toleransi ini ditentangkan dengan agama. Bagi saya sendiri, agama adalah bahasa yang melintasi negara, apalagi ras dan gengsi teritorial, sehingga sebenarnya tidak relevan untuk dipertentangkan. Karena kan, semua orang bebas memilih operating system-nya, apapun hardware-nya.

Di atas itu, tentu adalah kemanusiaan. Sepertinya di sini nasionalisme dihargai terlalu tinggi. NKRI tidak harga mati, bila harus mengorbankan kemanusiaan. Manusia berhak atas kesejahteraan dirinya. Bila negara tempatnya bernaung tidak bisa memberikan fasilitas atau dukungan agar kesejahteraannya tercapai, baik dengan usahanya sendiri atau berkat katalis alat-alat negara, manusia boleh memilih negara yang mampu mewujudkannya.

Di atas kemanusiaan, sejujurnya ada penghambaan. Kita semua adalah mahluk, diciptakaan oleh Al Kholiq Sang Pencipta. Mengapa harus saling menikam? Surga bukan soal kuota, tapi passing grade (dan rahmat dari Yang Memiliki, tentu).


Saya belum pernah ke Papua. Wilayah paling timur yang pernah saya kunjungi adalah Sumba, NTT. Dan memang beda dengan dunia barat di sini. Bahkan NTT dan NTB saja sudah beda. Semacam: Bali itu Hindu, NTB itu Islam, dan NTT itu Katolik. Kebetulan yang lucu.

Kami pernah belajar tentang antariksa, sehingga terbiasa melihat bumi sebagai debu, atau titik, di hadapan semesta. Dengan demikian, kami tidak hirau apakah Papua bagian dari Indonesia dan bagaimana narasinya pulau-pulau terbagi oleh perbedaan sejarah masa lalu. Padahal, garis pantai adalah batas yang lebih pantas.

Mengapa harus memaksakan diri dengan wilayah yang luas. Memang benar, penguasa cenderung bernafsu meluaskan daerah kekuasaannya. Setelah itu lalu apa?

Mangan ra mangan ngumpul ini juga terejawantah di level keIndonesiaan. Yang penting semuanya bersatu, atau berkumpul, meskipun tidak makan, atau hanya sebagian yang makan. Lalu yang tidak makan, tentu mulai ingin tidak bersatu.

Jadi sebenarnya apa yang diutamakan? Persatuan atau kesejahteraan? Jika memilih persatuan seperti sekarang ini, wajar bila kesejahteraan terlambat datang. Kalau memilih kesejahteraan, akan lebih cepat jika entitasnya berukuran kecil-kecil yang mengurusi dirinya sendiri. Saya tidak berkepentingan dengan perpisahan atau persatuan. Oleh karena itu, anggaplah kita terlanjur nyaman dengan keadaan sekarang, untuk mengutamakan persatuan. Indonesia tetap utuh seperti sekarang ini. Namun perlu diingat, persatuan tidak berarti semuanya baik-baik saja tanpa pertikaian. Berpisah pun bukan masalah asal tidak membenci dan melukai.

Toh sebenarnya perpecahan hanya akan memunculkan pemimpin kecil baru yang belum tentu juga piawai dalam mengorganisasi. Munculnya raja-raja kecil pernah terjadi di Nusantara. Tidak semuanya baik juga terhadap rakyatnya meskipun tidak seluruhnya lalim. Perubahan tidak lantas meminimalisasi ketidakpastian.

Sungkem,
Abdullah M.

No comments:

Post a Comment