Friday, October 11, 2019

Arabia [1]: The Acomodador

"The acomodador: there is always an event in our lives that is responsible for us failing to progress: a trauma, a particularly bitter defeat, a disappointment in love, even a victory that we did not quite understand, can make cowards of us and prevent us from moving on".
Paulo Coelho: The Zahir.

Tahun 2010 saya pengen keluar dari kuliah di pemerintahan, balik ke cinta lama: Aerospace Engineering ITB. Akhirnya cuma wacana. Waktu itu pura-pura punya pelipur lara: di kampus itu saya kenal dan bergaul dengan teman-teman yang menulis bahasa Indonesia/Jawa, memakai huruf Arab. Waktu itu saya memilih bertahan, lebih karena tidak cukup kuat tekad untuk mengambil jalan yang tak jamak diambil orang demi cinta lama. Pura-puranya bersyukur, mendapati diri bisa ikut mengaji kitab kuning sembari kuliah yang sama sekali tak diinginkan. Oke, jujurnya juga, apa yang bisa dibanggakan dari belajar Akuntansi?


Sepertinya terlalu berat untuk kembali memasuki kuliah formal khas orang-orang berotak terlalu kiri: jurusan teknik (setelah istirahat setahun di dunia tata buku). Lalu sempat berpikir dan berharap bisa belajar bahasa pemrograman secara informal. Tidak, ini juga wacana. Saya tidak cukup militan untuk belajar bahasa komputer karena kurang gadget freak. Padahal kan cukup mewah waktu itu soal codang-coding. Lalu kenapa tidak belajar bahasa yang lainnya? Bahasa Arab, sebagai bahasa, kan juga kode-kode. Jadi, rasanya keren juga kalau bisa bahasa Arab. Dan siapa tau bahasa Arab bisa membantu memahami hidup (?).

Tahun 2011 saya mulai belajar bahasa Arab bersama komunitas Al Lughoh di kampus. Sebenernya sih dulu waktu SMA pernah belajar di madrasah dinniyah sedikit tentang Kitab Alfiyah Ibnu Malik dan 'Imriti, tapi tidak tau kalau itu adalah kitab syair tentang tata bahasa Arab. Singkat cerita sudah beberapa semester belajar Arabia lewat lembaga kursus, walaupun secara kualitas tidak sebonafide lembaga bahasa asing lain, hingga akhirnya memahami bahwa kita belajar bahasa Arab karena kita seorang muslim. Tapi tidak hanya sampai di situ. Arabia mengejawantah dan terintegrasi ke dalam hal-hal lainnya: ingin kuliah di Arabia yang di situ juga akan dihelat Piala Dunia Sepak Bola, ingin menjelajah Negeri-negeri Tengah, juga tentang perempuannya.

Sehingga, ketika sampai pada salah satu faktor yang terlalu jauh dari tercapai, kegamangan turut membayangi: benarkah Arabia ini spesial buat saya?

Sungkem,
Abdullah M.

No comments:

Post a Comment