Tuesday, April 7, 2020

Arabia [2]: Tengah-tengah

Di kelas bahasa Arab baina yadaik level akhir, sebagian besar pesertanya adalah Salafiyyin; ada yang ke-NU-NU-an; sedang gue yang paling liberal. Salafiyyin ini yang kira-kira baru hijrah milenium ini, kebanyakan tidak lagi muda tapi mereka semangat sekali belajar agama, dalam hal ini bahasa Arab. Gue sebut keNuNuan dengan alasan bacaannya kurang lancar. Harusnya basic skill-nya orang NU itu baca qurannya lancar sekali. Serius! NU tulen itu bacaan qurannya lancar sekali.

Dari semua itu, dimanakah gue?


Gue bisa mengklaim, di kelas itu, pronunciation gue yang paling baik. hehe. Ya gimana ya, lahir di kampung yang mayoritas NU dengan kewajiban mengaji bakda magrib, dan waktu itu belum terdistorsi oleh gawai dan kemewahan duniawi lainnya. Yoyo berlampu saja tidak punya.

Bisa dipahami mengapa di kelas bahasa Arab lebih banyak temen-temen salafiyyin. Selain karena mereka semangat menuntut ilmu apa saja, orang NU tulen harusnya sudah bisa bahasa Arab, atau minimal bisa baca kita kuning, cukup bagi mereka. Untuk ukuran orang awam, selesai belajar kitab Alfiyah Ibnu Malik di pesantren atau madrasah diniyah itu sudah cukup. Gue belum selesai belajar kitab grammar bahasa Arab itu sudah keburu lulus SMA lalu merantau. Jadi gue lanjutin belajar bahasa Arab di perantauan, dengan metode yang justru diawali dengan percakapan sebelum grammar.

Belajar bahasa Arab itu susahnya minta ampun. Terlepas dari adagium yang katanya kalau belajar agama harus ikhlas dan bertujuan ketuhanan, sedangkan gue tidak benar-benar karena untuk memahami bahasa Al Quran semata, maka gue merasa kesulitan. Hingga gue berpikir: ngapain gue terkotak-kotak dalam cabang-cabang Islam yang masing-masing mengklaim lebih sesuai dengan quran dan sunnah, lha wong belajar bahasa Arab saja belum becus.

Gue mamalia lajang, dari kumpulannya terbuang. Mencoba melepaskan diri dari semua golongan dan berfokus pada mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab ini netral, siapapun dapat mempelajarinya (atau kalau kamu muslim, harusnya sih ada usaha untuk mempelajarinya). Pikiran ini juga membuat gue menjadi bodo amat, tidak mau banyak ngomongin soal agama, karena tadi: bahasa Arab saja belum bisa.

Mencoba berada di tengah-tengah, entah jadinya apakah hanya setengah-setengah.

Sungkem,
Abdullah M.

No comments:

Post a Comment