Tuesday, November 24, 2020

Gado-gado

Indonesia ini memang campur-campur. Mengaku mempunyai jati diri asli, tapi tidak percaya dengan keberadaan diri sendiri. Menjunjung tinggi rupiah, apa daya pasar selalu menggoyah.

King or Queen of England kan head of church ya (gara-gara nonton series The Crown, gak tau sekarang masih apa gak). Minimal, itu terjadi pasca-Perang Dunia II alias modern era. Di Indonesia, yang bangga sekali dengan predikat negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia, tidak begitu. Mungkin karena sistem pemerintahannya presidensial dimana presiden (dan wapres)-nya dipilih langsung. Tapi hari ini kan wapres kita mantan ketua MUI, seorang kyai, yang bahkan para pendukungnya lupa dengan keberadaan Sang Wapres. Pada jaman kerajaan dulu juga begitu, agama agaknya melekat pada pemerintahan, di mana di sebutkan dalam sejarah, ada istilah "kerajaan hindu"; "kerajaan islam".

Kembalinya seorang pimpinan sebuah ormas saja, bikin kekacauan perekonomian. Tidak hanya Garuda Indonesia yang harus mengembalikan dana para penumpangnya yang terjebak macet karena akses ke Bandara Soekarno Hatta dipenuhi fans/pengikut Sang Imam Besar, namun juga kemungkinan was-was kaum investor. Kaum fanatik tidak peduli benar salah, habaib harus dibela. Sebaliknya, bagi yang anti, kekacauan semacam penjemputan di bandara adalah puncak gunung es dari banyak masalah yang mungkin tercipta karena keberadaan ormas tersebut. Hal ini kemudian diperjelas dengan aksi kekanakan dengan membuat resepsi nikah sekaligus perayaan maulid nabi yang menghadirkan puluhan ribu orang. Peristiwa yang seperti ini mengindikasikan kalau Jakarta, dan Indonesia, ini negeri (terlihat) agamais.

Di tanah air yang sama juga, perceraian dianggap sebelah mata sementara perselingkuhan dapat dimaklumi. Eh, bukan perselingkuhan, maksudnya: extramarital affairs, apalagi married by accident. Ustadz Abdul Shomad bercerai. AA Gym berpoligami dengan sedikit catatan. Alm. Ustadz Arifin Ilham berpoligami secara alamiah. Memang sih, agama tidak hanya mengatur tentang pernikahan. Masalahnya adalah, moralitas tidak memiliki institusi yang bisa mengesahkan sebuah hubungan sex with consent, with or without marriage. Dan yha satu lagi: friends with benefits. Brengsek.

I believe I'm quite behind by my age, or skipped a period of time in my life, about this.

Kan sebenere untuk bisa jadi baik itu gak harus agamais, sama juga untuk jadi baik gak harus anti-agama. Kenapa saling benci sih? Tidak setiap orang memang taat aturan, entah itu aturan Tuhan, aturan manusia, maupun aturan alam. Tinggal apakah orang itu merugikan orang lain atau tidak. Tapi, memaafkan, bisa kan?

Mbuh wis,
XOXO.
-M- 

No comments:

Post a Comment