Thursday, August 26, 2021

Ultimate Partnership (1)

Istilah bahasa Indonesianya apa ya? Oke, mending di sini pake frasa ultimate partnership ini saja untuk mewakili kata you know what it is.

Pertama lihat istilah ini karena baca qoute-nya Warren Buffet, “Who you marry, which is the ultimate partnership, is enormously important in determining the happiness in your life and your success and I was lucky in that respect.”

Setuju banget sih. Bisa jadi ini deskripsi paling simpel dari perjanjian dua orang itu: ultimate partnership. Melingkupi seluruhnya: visi, prinsip, jiwa, raga, finansial, legal menurut hukum (agama dan negara).

Walaupun sebagaimana kita tahu, sebenernya ultimate partnership-nya Beliau tidak ultimate juga. Legal bonding-nya tetap berjalan meskipun para pihak telah berganti (Warrent berpisah rumah dengan istri resminya, tetapi tinggal bersama pihak ketiga yang direstui istri resmi. Sampai istri resmi meninggal, Beliau baru menikahi si pihak ketiga). Tapi itu urusan domestik mereka lah ya. Walaupun kan, salah satu kesan dari kata ultimate partnership ini ya ekslusif hanya dilakukan oleh 2 pihak, tidak lebih. Cukup dua pihak dan itu sudah menyeluruh.

So, seriously apakah kita harus mencari yang ultimate untuk berpatner?

Saturday, January 16, 2021

Isyarat

Isyarat Saraswati?

What does coincidence mean for you?

Sudah lama saya tidak membaca ayat-ayat, kecuali hari Jumat. Gini-gini saya masih takut kalau diberi umur panjang sampai di akhir hayat bertemu fitnah kiamat. Hari-hari ini saya lebih sibuk membaca isyarat, atau lebih tepatnya menunggu-nunggu, atau mengira-ira ini itu adalah isyarat: boleh tidaknya melanjutkan perjalanan ke sana, ke kiri, atau berhenti dulu.

Pandemi ini menghantam semuanya, tapi efek yang diterima masing-masing orang tentu saja berbeda. Karena, pandemi tidak datang sendiri. Minimal ia datang tidak membuat kekacauan lain berhenti bekerja. Patah hati, kecewa, bala, dan kawan-kawannya tetap ada, turut melengkapi kehadiran si Virus.

Sebelum semua dikembalikan pada Tuhan, kan boleh kita berupaya 'membuat' takdir kita sendiri, atau apa yang kita harapkan menjadi takdir kita sendiri, sesuai harapan yang direncanakan. Memang iya, semua ini pasti ada Yang Merencanakan. Mungkin tidak semuanya bisa dijelaskan, tapi kan ada hal yang bisa diuraikan agar diterima dulu sama hati, atau akal, sebelum dipasrahkan kembali ke Tuhan?