Saturday, January 16, 2021

Isyarat

Isyarat Saraswati?

What does coincidence mean for you?

Sudah lama saya tidak membaca ayat-ayat, kecuali hari Jumat. Gini-gini saya masih takut kalau diberi umur panjang sampai di akhir hayat bertemu fitnah kiamat. Hari-hari ini saya lebih sibuk membaca isyarat, atau lebih tepatnya menunggu-nunggu, atau mengira-ira ini itu adalah isyarat: boleh tidaknya melanjutkan perjalanan ke sana, ke kiri, atau berhenti dulu.

Pandemi ini menghantam semuanya, tapi efek yang diterima masing-masing orang tentu saja berbeda. Karena, pandemi tidak datang sendiri. Minimal ia datang tidak membuat kekacauan lain berhenti bekerja. Patah hati, kecewa, bala, dan kawan-kawannya tetap ada, turut melengkapi kehadiran si Virus.

Sebelum semua dikembalikan pada Tuhan, kan boleh kita berupaya 'membuat' takdir kita sendiri, atau apa yang kita harapkan menjadi takdir kita sendiri, sesuai harapan yang direncanakan. Memang iya, semua ini pasti ada Yang Merencanakan. Mungkin tidak semuanya bisa dijelaskan, tapi kan ada hal yang bisa diuraikan agar diterima dulu sama hati, atau akal, sebelum dipasrahkan kembali ke Tuhan?

Menunggu Tuhan ngasih petunjuk spesifik, padahal Dia udah ngasih petunjuk jelas. Memang rasanya gak spesial untuk kita banget, tapi untuk semuanya.

17 Maret 2020

Seperti misal, pada suatu sore tanggal 17 Maret 2020, Tuhan melalui hamba-Nya yang baik, menempatkan saya di gerbang belakang kantor, padahal hari itu jadwal WFH pertama saya. Seorang teman minta diantar ke klinik. Sambil menunggu, seseorang yang lain juga menunggu teman-kantor di seberang. Dari momen itu memberi saya gambaran kasar bahwa telah ada sepasang jodoh yang Tuhan tetapkan dan saya harus memantapkan diri pada keyakinan bahwa memang it doesn't mean for me from the first place, sesuai dengan saya yakin juga. Isyarat ini menjadi jelas pada bulan berikutnya melalui kebocoran zoom, dan permanen pada akhir tahun. Namun, Tuhan tidak mengisyaratkan, melalui hamba-Nya yang baik lainnya, untuk membeli saham BRIS sebanyak-banyaknya pada hari itu, 17 Maret 2020, atau bulan berikutnya. Dan semua ini harusnya sama jelasnya pada akhir tahun.

Sebelum semuanya seburuk sekarang, saya mencatat tanggal yang bisa jadi titik mula runtutan gejolak ini.

30 Agustus 2019

Ada waktu-waktu tertentu yang sebaiknya kita tidak bercanda-canda padanya. Di ujung hari kerja dalam seminggu, selepas jam kerja berakhir, adalah waktu-waktu yang melegakan. Biasanya orang lekas pergi dari kantor, baik langsung ke rumah atau mampir melepas lelah.

Jumat sore, selepas ashar dari masjid, saya langsung menuju ke Ruang Karaoke. Bukan saya tak bisa bersenang-senang ya, tapi yang berkaitan dengan audio memang bukan bakat saya. Tapi toh saya di situ ikut bernyanyi, pada saat para hamba Tuhan menggunakannya untuk berdoa pada waktu yang mustajab itu.

Malam harinya, seorang temannya teman, kakak tingkat di kantor dan kuliah, masuk rumah sakit karena stroke. Tiga hari kemudian kami berduka. Bulan berikutnya, ada isyarat juga untuk stay away, atau jangan ikut campur dengan orang itu. Tapi saya tidak benar-benar pergi, karena beberapa hari sebelum 30 Agustus itu, apa yang saya pilih untuk diseriusi, berjalan tidak sesuai dengan harapan (antara lain) karena ada intervensi teman lama.

Ada orang-orang yang didatangkan, lalu dibuat pergi, untuk apa? Tidak ada yang kebetulan, bukan?

Sungkem,
-M-

4 comments: