Thursday, August 26, 2021

Ultimate Partnership (1)

Istilah bahasa Indonesianya apa ya? Oke, mending di sini pake frasa ultimate partnership ini saja untuk mewakili kata you know what it is.

Pertama lihat istilah ini karena baca qoute-nya Warren Buffet, “Who you marry, which is the ultimate partnership, is enormously important in determining the happiness in your life and your success and I was lucky in that respect.”

Setuju banget sih. Bisa jadi ini deskripsi paling simpel dari perjanjian dua orang itu: ultimate partnership. Melingkupi seluruhnya: visi, prinsip, jiwa, raga, finansial, legal menurut hukum (agama dan negara).

Walaupun sebagaimana kita tahu, sebenernya ultimate partnership-nya Beliau tidak ultimate juga. Legal bonding-nya tetap berjalan meskipun para pihak telah berganti (Warrent berpisah rumah dengan istri resminya, tetapi tinggal bersama pihak ketiga yang direstui istri resmi. Sampai istri resmi meninggal, Beliau baru menikahi si pihak ketiga). Tapi itu urusan domestik mereka lah ya. Walaupun kan, salah satu kesan dari kata ultimate partnership ini ya ekslusif hanya dilakukan oleh 2 pihak, tidak lebih. Cukup dua pihak dan itu sudah menyeluruh.

So, seriously apakah kita harus mencari yang ultimate untuk berpatner?

Legal Aspect.

Pada level tertentu memang legal-bonding partnership kayak gini tidak menguntungkan. Semacam, perlakuan tarif pajak yang berbeda bagi sepasang suami-istri versus dua orang jomblowan-jomblowati. Ini terkait dengan tarif progresif di mana penggabungan penghasilan 2 orang yang terikat pernikahan memungkinkan jumlahnya menjadi bisa melewati level tarif di atasnya bila dibandingkan dengan 2 orang yang dihitung penghasilannya masing-masing (lebih lengkapnya sila baca-baca di tempat lain ya).

Ya tapi kan ini Indonesia, negara hukum yang beragama. Warga negaranya sih entah ya. Tapi pokoknya di atas kertas, ya ultimate partnership harus sah secara hukum negara dan agama, sekalipun kalau orangnya tidak nasionalis dan tidak agamais. (Dan saya nasionalis agamais??? Tidak relevan) Dan kadang saya merasa sedih sendiri di sini, karena kenyataannya statistik yang ada tidak menggambarkan agamaisnya negeri ini. Tidak semua orang beragama itu taat, lain orang yang mengaku vegan bisa dipastikan benar-benar tidak makan daging. Terus saya jadi heran kenapa saya mempermasalahkan ini. Hiks. Skip lah.

Eh tapi intinya, we have to respect the rules, the legal aspect. Seperti misal anak ustadz yang baru cerai bulan Juni sudah nikah lagi dengan mantan istri temannya sendiri dalam waktu tidak lebih dari 3 bulan. Kita tidak berurusan musabab perceraian. Terkesan ada permainan curang di bawah bantal, tapi di atas kertas hukum, semuanya legal. Sayangnya, terlalu menaati hukum dengan mengabaikan rasa kepatutan jadi berkurang nilai indahnya.

Better Half, Soulmate, Best Friend.

Mimpi banget ya, berpartner dengan best friend, atau sekedar dumb luck bisa mempunyai teman yang bisa jadi ultimate partner. Bisa jadi sebenernya berusaha sangat kuat untuk menjadikan best friend sebagai better half, mau menerima segalanya sebagai soulmate, tidak melihat dan mencari-cari lagi di luar sana yang mungkin terlihat better.

It takes two to tango.

Gaya gravitasi tercipta dengan melibatkan setidaknya 2 benda yang mempunyai masa berada pada jarak tertentu. Kalau satu benda mempunyai masa yang lebih besar, maka benda lainnya menjadi pihak yang mengalah, atau kalah, berputar mengelilingi benda yang lebih masif. Kalau sama, saling mengelilingi, berkelindan. Seberapa masif keduanya juga menentukan seberapa jarak minimal keduanya untuk merasakan adanya grafitasi. In this respect, saya tidak melihat adanya keharusan satu pihak melakukan kerja lebih sesuai hukum patriarki. Keduanya bisa seimbang dengan karakter yang berbeda. Minimal kamu harus menyalakan lampu agar orang mendeteksi kamu ada di mana, lalu mendekatimu.

Terus, apa usahamu?

to be continued,

-ΛM-

No comments:

Post a Comment